Ditampilkan sesuai ebook aslinya (79 halaman). Video kajian: playlist YouTube.
Dengan menyebut Nama Allāh Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang NOTULENSI Al-Ushulus Sittah (6 Landasan Pokok dalam Agama) Notulensi dari pembahasan kitab al-Ushulus Sittah, karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab pada Program Kuliah Mafaatihul ‘Ilmi | Silsilah Aqidah yang Menyelamatkan dari Api Neraka, disampaikan oleh al-Ustadz Dzulqarnain bin M. Sunusi Sumber Pembahasan : Youtube DzulqarnainMS Scan barcode atau klik bit.ly/silsilahaqidah5 iii Judul : Al-Ushulus Sittah Penulis : Al-Mujaddid Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab at-Tamimi an-Najdy Penjelasan : Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi Program : Kuliah Mafaatihul ‘Ilmi (Kunci-kunci Ilmu) Silsilah Aqidah yang Menyelamatkan dari Api Neraka [5] Notulensi : Ukuran : Edisi : 29 Desember 2024 / 27 Jumadil Akhir 1446 H Segala puji hanya milik Allāh yang dengan segala nikmatnya segala kebaikan menjadi sempurna Kata Pengantar Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya. Segala bentuk pujian dan syukur kami sampaikan hanya kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan kepada hamba-hamba-Nya. Dan diantara nikmat tersebut, atas izin dan pertolongan dari-Nya, kami dimudahkan untuk menyusun: Notulensi dari pembahasan kitab al-Ushulus Sittah, karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab pada Program Kuliah Mafaatihul ‘Ilmi (Silsilah Aqidah yang Menyelamatkan dari Api Neraka) yang disampaikan al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi Kami selaku penyusun notulensi, sangat menganjurkan kepada sahabat-sahabat, para pembaca, untuk menyimak secara langsung kajian al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi di youtube resmi beliau, kemudian mencatat apa yang beliau sampaikan, diiringi dengan pengagungan dan adab-adab dalam menuntut ilmu. Dengan menyimak dan menulis, sahabat-sahabat bisa memahami materi dengan lebih maksimal dan menyeluruh, mendapatkan tambahan faidah yang mungkin terluput dari notulensi ini dan berbagai keutamaan lainnya. Kami menyadari bahwa kami tidak luput dari khilaf dan kesalahan, maka dari itu kami berharap masukan dan saran dari sahabat-sahabat sekalian, apabila mendapati kekeliruan dalam notulensi ini. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin. Penyusun, Daftar Isi Kata Pengantar ..............................................................................iv Daftar Isi.......................................................................................... v [Pendahuluan] .................................................................................1 1. Pentingnya pembahasan enam pokok agama ini.............................................................. 2 2. Kejelasan prinsip-prinsip pokok Ahlus Sunnah wal Jamaah...................................... 2 3. Ada permasalahan-permasalahan yang kadang banyak orang-orang cerdas keliru di dalamnya maka jumlah banyak bukanlah sebagai ukuran........................... 5 4. Jelasnya perbedaan antara kebenaran dan kebatilan .................................................... 6 Pokok Pertama.............................................................................. 10 1. Terangnya makna ikhlas dan syirik dalam al-Quran ....................................................11 2. Terjadinya kesyirikan di tengah umat..................................................................................12 3. Penyelewengan makna ikhlas kepada bentuk “merasa meremehkan orangorang shalih dan kurang memenuhi hak-hak mereka”.....................................................13 4. Penampakan kesyirikan dalam bentuk mencintai orang-orang shalih dan para pengikutnya...................................................................................................................................14 Pokok Kedua ..................................................................................17 1. Perintah agar bersatu/bersama & larangan berpecah serta jelasnya keterangan hal tersebut di dalam al-Quran dan as-Sunnah...........................................18 2. Penyelewengan makna perpecahan dalam pokok-pokok dan cabang-cabang agama bahwa itulah ilmu dan fiqih dalam agama ...............................................................21 3. Perintah agar bersatu/bersama dianggap tidak diucapkan, kecuali orang yang dipandang zindiq atau orang gila......................................................................................22 Pokok Ketiga .................................................................................26 1. Kewajiban mendengar dan taat kepada pemerintah serta hal itu merupakan kesempurnaan bersatu.......................................................................................................................26 2. Mendengar dan taat kepada siapa saja yang menjadi pemimpin, walaupun seorang budak Habsy ..........................................................................................................................39 3. Kejahilan banyak orang yang mengaku berilmu tentang prinsip pokok yang agung ini .....................................................................................................................................................41 Pokok Keempat.............................................................................42 1. Penjelasan tentang ilmu dan fiqih serta ulama dan fuqaha ......................................44 2. Penjelasan tentang siapa saja yang sok menyerupai ulama & fuqaha dan orang-orang yang tidak terhitung sebagai ulama dan fuqaha ......................................44 3. Penjelasan prinsip pokok ini dari uraian ayat-ayat pada surah al-Baqarah....45 4. Penjelasan prinsip pokok ini dari Sunnah Nabi...............................................................47 5. Bentuk-bentuk penyelewengan manusia terhadap ilmu dan fiqih.......................47 a. Anggapan bahwa ilmu & fiqih adalah bid’ah-bid’ah & kesesatan.....................48 b. Penyamaran antara kebenaran dan kebatilan ............................................................50 c. Tiada yang mengujarkan ilmu wajib, kecuali zindiq / orang gila......................51 d. Siapa saja yang mengingkari, memusuhi, dan bersungguh-sungguh mentahdzir ilmu, dia yang dianggap faqih yang berilmu...........................................55 Pokok Kelima................................................................................57 1. Penjelasan siapa saja wali-wali Allah serta perbedaan antara wali-wali Allah dan kalangan munafikin dan orang-orang fajir yang sok menyerupai wali-wali Allah ..............................................................................................................................................................59 2. Jelasnya tiga ayat yang Penulis sebutkan tentang sifat-sifat wali-wali Allah dan penjelasan tiga ayat tersebut.................................................................................................59 3. Penyelewengan manusia terhadap makna wali-wali Allah bahwa para wali itu tidak harus mengikuti jalan para rasul, tidak berjihad, serta meninggalkan iman dan takwa...................................................................................................................................................63 Pokok Keenam ..............................................................................65 1. Bantahan terhadap syubhat bahwa al-Quran dan as-Sunnah hanyalah diketahui oleh seorang mujtahid mutlak..................................................................................65 2. Definisi mujtahid mutlak menurut mereka........................................................................67 3. Mereka menyelewengkan pemahaman bahwa siapa saja yang mencari petunjuk dari al-Quran & as-Sunnah maka dia adalah zindiq atau orang gila karena sangat-lah sulit memahami al-Quran dan as-Sunnah .......................................68 4. Tafsir ayat-ayat dari surah Yasin.............................................................................................72 Ushuul ( (jamak dari ashlun ( (, ashl secara bahasa artinya apa yang menjadi tumpuan sesuatu itu dibangun di atasnya. Secara sederhana (dalam bahasa Indonesia) disebut ‘pondasi’ atau ‘pijakan’. Dikatakan al-Ushuul asSittah, berarti enam pokok/pondasi. Di sini penulis memilih enam landasan pokok yang sangat jelas dan terang, tapi sebagian manusia keliru di dalamnya. Enam landasan pokok ini memperjelas apa yang dimaksud dengan tauhid, memperjelas bagaimana pentingnya seseorang itu mempelajari aqidah yang benar, dan pentingnya mengenal agama Rasulullah. Matan kitab dikutip dari ad-Durar as-Saniyyah, 172-174. [Pendahuluan] Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab berkata: Di antara keajaiban yang paling menakjubkan dan di antara ayat (tanda) Allah paling agung yang menunjukkan kemampuan (Allah) alMalik ‘yang Maha Berkuasa’ lagi al-Ghallaab ‘yang Maha Menaklukkan’ adalah enam pokok agama yang Allah Ta’ala terangkan kepada orangorang awam dengan penjelasan yang sangat jelas melebihi persangkaan orang-orang yang menyangka. Lantas, setelah itu, banyak orang-orang cerdik dan orang berakal dari anak Adam yang keliru di dalam (memahami) hal itu, kecuali sangat sedikit dari (jumlah) yang sedikit. 2 | Enam Landasan Pokok dalam Agama 1. Pentingnya pembahasan enam pokok agama ini Enam pokok yang ditulis oleh penulis ini, semuanya adalah pondasipondasi dasar dalam keislaman, dari pokok-pokok agama yang harusnya jelas bagi setiap muslim dan muslimah, tapi ternyata sejumlah manusia keliru di dalamnya bahkan orang-orang yang cerdik. Ini menunjukkan bahwa perlunya seseorang mempelajari dari ushul Islam, prinsip-prinsip pokok Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang telah berjalan di tengah umat ini dari masa Nabi, diwarisi oleh para sahabat, disampaikan ke tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan alhamdulillah masih terjaga hingga hari ini. Enam Landasan Pokok dalam Agama, yang akan kita pelajari: Pokok Pertama Pokok Kedua: Bersa : Meng ikhlas dalam agama kan agama hanya untuk Allah & larangan berpecah belah Pokok Ketiga: Bersikap mendengar & taat kepada ulil amri Pokok Keempat: Mengenal ilmu & ulama, serta jangan terkecoh dengan orang yang mengaku ulama padahal bukan Pokok Kelima: Penjelasan tentang siapakah wali Allah itu Pokok Keenam: Bantahan terhadap syubhat syaithan bahwa mengikuti al-Quran dan as-Sunnah secara langsung itu sulit dan hanya bisa diikuti oleh seorang mujtahid mutlak 2. Kejelasan prinsip-prinsip pokok Ahlus Sunnah wal Jamaah Ushul Ahlus Sunnah itu dibangun di atas dalil-dalil yang kuat, dibangun di atas pendalilan dari pokok syariat, dan perkara-perkara yang telah disepakati oleh para ulama. Karena itu, Islam ini menerangkan dengan penjelasan yang sangat jelas. Enam pokok agama yang Allah terangkan kepada orang-orang awam dengan penjelasan yang sangat jelas melebihi persangkaan orang-orang yang menyangka. Allah berfirman, “Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh), dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” [QS. al-An’am: 55] Dari al-Irbâdh bin Sariyah , Rasulullahbersabda, “Sungguh telah aku tinggalkan kalian di atas sesuatu (petunjuk) yang putih bersih dimana malamnya seperti siangnya, dan tidaklah berpaling darinya melainkan orang yang binasa.” [HR. Ahmad] Bukan kebenaran saja yang diterangkan, tetapi diterangkan juga kebatilan. Kebenaran diterangkan untuk diikuti, sedangkan kebatilan diterangkan untuk dihindari. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, Nabibersabda, “Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun sebelumku kecuali wajib baginya untuk menunjukkan kepada umatnya segala kebaikan yang diketahuinya untuk mereka dan memperingatkan mereka dari segala keburukan yang ia ketahui untuk mereka.” [HR. Muslim, no. 1844] Pokok-pokok Ahlus Sunnah wal Jamaah itu diwarisi oleh para ulama dari masa ke masa, ada di buku-buku mereka. 4 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Ada ratusan buku ada di pembahasan aqidah. Mau yang ringkas, pertengahan, dengan sanad periwayatan. Ada juga di dalam buku hadits bersamaan dengan pembahasan lain, itu ada di buku-buku para ulama. Dan yang menarik dari jelasnya aqidah Ahlus Sunnah, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Abul Muzhoffar as-Sam’ani, “Kalau kamu melihat Ahlus Sunnah dari masa mana saja, maka kamu tidak akan menemukan yang satu itu berbeda dengan yang lainnya. Mereka bersepakat karena terangnya jalan Ahlus Sunnah itu.” Itulah ciri kebenaran, itulah agama ini. Allah berfirman, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? Kalau kiranya alQuran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [QS. an-Nisa: 82] Kalau datangnya dari selain Allah, pasti banyak pertentangan dan kontradiksi. Tapi karena dia ‘kebenaran’, maka sebagiannya memperjelas sebagian yang lain, kalau berulang maka perulangannya semakin memperindah yang sebelumnya. Itulah prinsip Ahlus Sunnah, sangat jelas dan terang. Karena itu, kalau seseorang membaca dari buku-buku aqidah asSalaf, semakin dia membacanya, semakin dia yakin terhadap perkara aqidahnya. Beda dengan Ahlul Bid’ah, semakin dia pelajari maka akan semakin bingung. Tidak ada sejarahnya dalam Ahlul Bid’ah, dia tidak ada kebingungan dalam beragama. Pasti akan ditemukan perbedaan dan perselisihan. Di tengah orang-orang Asy’ariyyah misalnya, pada pembahasan takdir ada belasan pendapat di tengah mereka. Sampai ditertawakan oleh orang-orang, darimana dia bisa banyak pendapat seperti itu. Mereka tetapkan sifat yang 7, datanglah berikutnya seorang pemuka menambah sifat yang ke-8, ribut ini dan itu. Ini adalah ciri seseorang itu keluar dari jalan, tidak berada di ushul Ahlus Sunnah. Ushul Ahlus Sunnah itu perkara yang jelas dan terang, sisanya tinggal bagaimana seseorang itu mempelajarinya dengan baik. Ghallaab bukan dari asmaul husna, dibawakan oleh penulis sebagai sisi pengabaran saja, bukan penetapan nama dan sifat. Ada di dalam alQuran ‘wallaahu ghaalibun ‘ala amrihi’ (QS. Yusuf: 21), tapi nama al-Ghallab perlu nash khusus untuk penetapan. Tapi sifat Allah al-Ghallab (yang Maha Menaklukkan) telah tetap bagi Allah, disebutkan dalam al-Quran. 3. Ada permasalahan-permasalahan yang kadang banyak orang-orang cerdas keliru di dalamnya maka jumlah banyak bukanlah sebagai ukuran Ada orang-orang yang punya kecerdasan, ahli di bidang-bidang tertentu, di antara mereka ada yang tertimpa musibah bid’ah. Mereka jago dalam bahasa Arab, hafal matan-matan nahwu, bawakan dari baitbait syair, tapi keliru seperti yang disebut oleh penulis. Ada juga yang hafal al-Quran, hafalan qiraahnya banyak, sampai ada seorang masyaikh bercerita, dia pernah berjumpa dengan seorang ahli qiraah di salah satu negeri kaum muslimin, hafal semua qiraah tetapi tidak bisa bahasa Arab. Bersamaan dengan itu, aqidahnya bukan aqidah yang lurus. Karena dia punya sisi kecerdasan, mampu menghafal, mengerti tajwid, panjang pendek, dan sebagainya. Tetapi di pembahasan-pembahasan agama, kadang orang yang cerdas itu keliru di dalamnya dan jumlahnya banyak. Maka jumlah yang banyak ini bukanlah ukuran. 6 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Allah Ta’ala telah menjadikan ukuran itu pada al-Quran dan sunnah Rasulullah, bukan pada kebanyakan orang. Sebab kalau mengikuti pada kebanyakan orang, maka akan disesatkan. Sebagaimana firman Allah, “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [QS. al-An’am: 116] Kalau semua orang diikuti, maka akan disesatkan, karena tidak ada yang ucapannya istiqomah. Seorang mukmin itu sudah ada jalannya. Allah berfirman, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. [QS. al-An’am: 153] 4. Jelasnya perbedaan antara kebenaran dan kebatilan Yang haq itu jelas sebagai al-haq (kebenaran) dan yang batil itu jelas sebagai kebatilan. Apabila seseorang sudah belajar ilmu, dia mengerti ushul Ahlus Sunnah, mendalami pokok agama, maka dia akan mengerti jalan yang lurus dan yang menyimpang itu bagaimana. Ada yang jelas-jelas menyimpang, ini semua orang bisa paham. Orang awam dari Ahlus Sunnah itu bisa memahaminya, misalnya ada orang yang mencela Abu Bakr, Umar bin Khatthab, maka dia tahu mereka adalah Syiah Rafidhah (jelas di dalam penyimpangannya). Semua orang mengetahuinya. Tapi pada bentuk penyimpanganpenyimpangan dalam masalah aqidah yang samar, itu disingkap oleh orang-orang berilmu. Bagi orang yang berilmu, itu bukanlah kesamaran, itu samar nisbi kepada siapa yang memandangnya atau tidak berilmu. Bagi orang yang berilmu, penyimpangan itu jelas dan terang. Karena itu, bid’ah-bid’ah dan penyimpangan saat dibawa kepada ahli ilmu maka mereka akan menjelaskan penyimpangan itu dengan sunnah. Dari sini, harus diketahui bahwa perbedaan antara yang benar dan yang batil itu selalu jelas. Karena Allah telah membedakan antara dua hal, supaya binasa yang tidak diberi petunjuk dan supaya hidup yang diberi petunjuk. Allah berfirman, “Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” [QS. alIsra’: 81] Allah juga berfirman, “Maka maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. [QS. Yunus: 32] 8 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Tidak akan berkumpul antara kebenaran dan kebatilan, ini adalah sifat dari agama, selalu menampakkan perbedaan. Al-Quran disebut dengan nama al-Furqaan (pembeda antara yang haq dan batil). Allah berfirman, “Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Furqaan (al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,” [QS. al-Furqaan: 1] Dibedakan antara petunjuk dan kesesatan. Dengan dia berpegang pada agama, pasti dia akan mendapatkan Furqaan. Allah berfirman, “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan.” [QS. al-Anfaal: 29] Dalam shahih al-Bukhari, dari hadits Jabir bin Abdillah, “Dan Muhammad memecah-belah/pembeda di antara manusia.” Memecah belah, bukan artinya seorang berada di atas kebenaran lalu dipecah, itulah yang dicela. Tapi maksudnya adalah memecah antara kebenaran dan kebatilan, memecah antara kekafiran dan keislaman, antara petunjuk dan kesesatan, antara cahaya dan kegelapan, maka ini wajib untuk dipecah. Karena itu, Nabi Muhammadmemecah belah di tengah manusia, siapa yang mukmin dan siapa yang kafir. Ini adalah kalimat-kalimat dalam syariat yang harus dipahami. Sebagian manusia sekarang ini, dia masuk ke dalam hal-hal yang mengikuti hawa nafsunya, keluar dari jalur syariat. “Kita harus menjaga kebersamaan dan persatuan”, tapi ternyata dengan cara membenarkan atau membiarkan kebatilan. Maka tidak ada dalam agama yang seperti itu. Agama ini menyatukan, siapa yang menjalankan syariat ini akan tercipta kebersamaan di tengah manusia, dan itu pasti. Karena itu, kita hanya diperintah untuk berpegang dengan agama yang lurus, dengan tali Allah, dengan jalan Allah. Di atas jalan itulah manusia bersatu, jalan itulah yang menyebabkan manusia selalu istiqomah, dan tercipta kebaikan, serta terhindar dari kejelekan di tengah mereka. Ketika Allah berfirman, “Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Furqaan (al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,” [QS. al-Furqaan: 1] Maksudnya al-Quran supaya menjadi nadziir (peringatan) terhadap seluruh alam. Maka di sini syaikh menjelaskan dari pokok-pokok agama yang mempertegas kebenaran, menunjukkan apa itu tauhid, apa itu agama yang lurus dan supaya seorang terhindar dari berbagai fitnah dan penyimpangan yang terjadi di tengah manusia. Hal ini terjadi di tengah umat pada masa beliau, maka beliau ingatkan dari kaidah-kaidah syariat, beliau bahas di sini enam landasan pokok dalam agama. 10 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Pokok Pertama Mengikhlaskan agama hanya untuk Allah Ta’ala semata [1], tiada serikat bagi-Nya, dan penjelasan lawannya yaitu kesyirikan. [2] Keberadaan banyak (ayat) al-Quran menjelaskan dasar pokok ini dari berbagai sisi, dengan pembicaraan yang bisa dipahami oleh orang awam yang paling sulit memahami. Kemudian, ketika terjadi perubahan pada kebanyakan manusia, syaithan menampakkan kepada mereka keikhlasan tetapi dalam bentuk merasa meremehkan orang-orang yang shalih dan kurang dalam memenuhi hak-hak mereka. [3] Kepada mereka, syaithan juga menampakkan kesyirikan terhadap Allah dalam bentuk mencintai orang-orang shalih & para pengikutnya. [4] 1. Terangnya makna ikhlas dan syirik dalam al-Quran Kejelasannya di dalam al-Quran tidak ada yang mengingkarinya, tentang wajibnya beribadah hanya untuk Allah dan meninggalkan segala bentuk keysirikan. Ibnul Qoyyimmenjelaskan, bahwa al-Quran dari awal hingga akhirnya semua berisi tentang tauhid. Tauhid itulah ikhlas. Ini penjelasan tentang mengikhlaskan agama hanya untuk Allah. Ikhlas secara bahasa berasal dari kata taswiyah, membersihkan. Dia murnikan ibadahnya dan dia bersihkan dari kesyirikan baik yang zhohir maupun yang batin. Al-Quran menjelaskan dari berbagai sisi, jika diterangkan maka banyak sekali tentang ikhlas. Bagaimana keikhlasan dan meninggalkan kesyirikan merupakan dakwah para nabi dan rasul. Disebutkan semuanya dari para nabi dan rasul, bagaimana diterangkan tentang wajibnya beribadah kepada Allah. “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” [QS. az-Zumar: 3] Bagaimana dirinci bentuk-bentuk ibadah itu yang diikhlaskan kepada Allah , bagaimana dipuji orang-orang yang ikhlas, bagaimana diterangkan sebab-sebab yang menyebabkan seseorang itu ikhlas agar dia menempuh jalannya, dan bagaimana dijelaskan akibat yang buruk bila seseorang jauh dari keikhlasan. Ada berbagai pembahasan di dalam al-Quran, sama seperti pembahasan syirik. Apa bahayanya, bentuk-bentuknya, ancaman kesyirikan untuk diri, keluarga dan negeri. Ini di dalam al-Quran banyak sekali. 12 | Enam Landasan Pokok dalam Agama 2. Terjadinya kesyirikan di tengah umat Tadinya manusia dalam kegelapan yang sangat gelap sebelum diutusnya Nabi Muhammad, maka datanglah beliau dengan membawa cahaya. Mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju kepada cahaya, menyelamatkan dari jurang kehancuran. Setelah Rasulullah wafat, terjadi kejadian-kejadian di tengah umat, mulai muncul dari bid’ah-bid’ah. Awal bid’ah yang muncul dari Syiah Rafidhah dan bid’ah Qodariyyah. Dalam sejarah firqah-firqah yang menyimpang, ada silang pendapat mana yang lebih dahulu muncul antara dua kelompok ini. Dan muncul bid’ah-bid’ah yang lainnya dan muncul bentuk-bentuk kesyirikan di tengah umat. Rasulullahmenyinggungnya dalam berbagai bentuk. Bahkan dalam al-Quran diisyaratkan tentang hal itu di berbagai tempat, misalnya Nabi bersabda, “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing.” [HR. Muslim Berarti mulai ada dari sendi-sendi agama yang dianggap aneh oleh sebagian manusia, padahal Islam. Harusnya jelas, tapi ada saja seperti itu. Karena dikabarkan oleh Nabi, seseorang yang mengikuti al-haq tidak merasa sedih dan khawatir dengan banyaknya orang yang menyimpang (keluar dari jalan). Sepanjang dia di atas kebenaran, maka dia bersyukur kepada Allah yang telah memberikan hidayah kepadanya. Apabila seorang itu sudah menetapi petunjuk, maka sepanjang dia di atas petunjuk, tidak perlu peduli terhadap siapa yang menyimpang. Kemudian, ketika terjadi perubahan pada kebanyakan manusia, syaithan menampakkan kepada mereka keikhlasan tetapi dalam bentuk merasa meremehkan orang-orang yang shalih dan kurang dalam memenuhi hak-hak mereka. Bagi mereka, kalau seseorang dikatakan ikhlas, maka itu berarti ini masih kurang berkhidmat untuk orang-orang shalih. Dia merasa apa yang dikerjakan itu tidak ada apa-apanya, merasa remeh terhadap orangorang yang shalih. Mereka kurang dalam memenuhi hak-haknya. Dibuatlah mereka jatuh ke dalam ghuluw, ekstrim dan berlebihan. Berlebihannya mereka terhadap orang-orang shalih ini, dianggap oleh mereka sebagai bentuk dari keikhlasan. Sebaliknya, kesyirikan ditampakkan oleh syaithan dalam bentuk kecintaan kepada orang-orang shalih dan pengikutnya. Mencintai orang shalih dan pengikutnya oleh syaithan ditampakkan bagus, perkara yang baik, padahal itu sudah masuk dalam kesyirikan. 3. Penyelewengan makna ikhlas kepada bentuk “merasa meremehkan orang-orang shalih dan kurang memenuhi hak-hak mereka” Inilah yang terjadi di tengah umat ini, dimana ikhlas itu anggap dalam bentuk merasa kurang dalam memenuhi hak orang-orang shalih. Inilah yang membuat orang-orang menyimpang, akhirnya membuat ghuluw. Berlebihan, ekstrim terhadap orang-orang shalih, menempatkan mereka bukan pada tempatnya. Ghuluw pada orang-orang shalih inilah awal sebab terjadinya kesyirikan di tengah manusia. Kemudian, ketika terjadi perubahan pada kebanyakan manusia, syaithan menampakkan kepada mereka keikhlasan tetapi dalam bentuk merasa meremehkan orang-orang yang shalih dan kurang dalam memenuhi hak-hak mereka. 14 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Karena Nabi Adam itu diutus dengan agama, kemudian datang masa Nabi Nuh, mereka punya orang-orang shalih yang mereka cintai. Begitu orang-orang shalih tersebut meninggal, mereka membuat gambar-gambar, patung-patung, dan ghuluw mereka terhadap orang shalih sampai beribadah kepadanya. Ikhlas ditampakkan seperti itu oleh syaithan, ghuluw kepada orangorang shalih. Dan ghuluw ini adalah hal yang tercela di dalam agama. Di sini diingatkan oleh syaikh, ikhlas itu untuk Allah. Adapun ikhlas dengan ghuluw untuk orang-orang shalih, merasa kurang dalam memenuhi hak-hak mereka, maka ini masuk di dalam kesyirikan. Tetapi sekarang hal tersebut terbalik, ini pengaruh ghuluw terhadap orang-orang shalih. Saat tertimpa musibah, dia tidak berdoa kepada Allah melainkan kepada orang-orang shalihnya. 4. Penampakan kesyirikan dalam bentuk mencintai orang-orang shalih dan para pengikutnya “Wahai habib fulan.. Wahai guru fulan..” Tidak ada nama Allah yang disebut, hanya nama orang-orang shalih baik yang hidup atau mati. Nas’alullaah ‘alal ‘aafiyah. Ini dari bentuk dari ghuluw. Ada orang yang kalau misalnya dalam sebulan tidak berkunjung kepada kuburan orang shalih, dia merasa berdosa. “Ini sudah lama saya tidak berkunjung ke guru fulan, saya merasa berdosa.” Ditampakkan ikhlas oleh syaithan seperti itu. Contoh Kisah 1 Sampai ada seorang syaikh yang bercerita, sebuah kisah di Mesir. Ada orang bertauhid naik mobil yang diantar oleh sopir. Di jalan ada peminta-minta, tidak dikasih oleh penumpang ini. Peminta ini berkata, “Dengan nama al-Badawi, kamu beri saya!” Dia bersumpah dengan nama al-Badawi, bukan Allah. Al-Badawi ini seorang yang dikubur di Mesir, ada kuburannya di sana yang masyhur. Kata penumpang ini, “Kamu tidak bersumpah saja saya tidak akan beri, apalagi kamu bersumpah atas nama selain Allah, tidak akan saya beri.” Maka diingatkan dari bahaya bersumpah dengan nama selain Allah. Berlalu, ini tidak masalah dengan peminta-minta. Tapi yang masalah ini dengan sopirnya. Sopirnya jadi gemetar dan kurang bagus kelihatannya. Ditanya “Ada apa?” Sopirnya berkata, “Saya khawatir kita terkena bahaya.”, “Kenapa?”, “Tadi ada peminta dengan menyebut al-Badawi kamu tidak beri, khawatir kita kena bahaya.” Sampai seperti itu mereka gambarkan, ghuluwnya terhadap orangorang yang mereka agungkan. Maka dinasehati oleh penumpang itu bahwa mereka tidak akan dapat masalah. Akhirnya mereka tiba di negeri yang dituju dan selamat, tidak terjadi apa-apa. Kata penumpangnya, “Apa saya bilang, tidak ada masalahnya.” Sopirnya berkata, “Memang dasarnya Sayyid al-Badawi itu orangnya baik.” Sebagian orang, subhanallah, semakin jauh dari hidayah. Contoh Kisah 2 Saya juga pernah ketemu saat di Masjidil Haram, ada orang yang berdzikir, gerak semua badannya, kanan kiri. Seperti orang tidak sadar, sedangkan orang-orang yang lewat melihatnya. Kalau tidak salah, kejadian ini tahun 98, awal saya haji. Maka saya dekati orang tersebut, ternyata orang Indonesia. Saya kenalan dan cerita. “Saya dari tadi duduk disamping bapak, lihat orang-orang memperhatikan bapak. Ini bapak kok begini cara berdzikirnya? Dalilnya apa?” “Oh tidak, memang saya dapat seperti itu dari guru saya.”, “Terus guru bapak dalilnya apa?”, “Oh ya tidak tahu, yang penting guru saya itu orang berilmu. Dia bagus saja, berilmu.” 16 | Enam Landasan Pokok dalam Agama “Baik, mungkin kalau ada dalilnya saya bisa sebutkan, saya bisa tebak-tebak.” Itu ada hadits yang mereka pakai, “Berdzikirlah kepada Allah sampai engkau seperti orang gila.” Saya bilang, “Ini hadits dari riwayat Darraaj, meriwayatkan dari Abul Haitsam, dari Abu Sa’id. Darraaj ini dhaiful hadits, kalau Darraaj meriwayatkan dari Abul Haitsam maka dianggap haditsnya munkar di kalangan para ulama ahli hadits.” Ini riwayat yang paling bagus yang dipakai oleh mereka. “Jadi sebenarnya tidak ada dalilnya sama sekali.” “Oh guru saya itu orang berilmu, tidak mungkin tidak ada dalilnya. Masa cuma itu saja, saya itu jahil tapi guru saya itu berilmu.” Ini bagaimana caranya memberi masukan. Saya lalu masuk dengan jalur lain, “Begini saja. Siapa yang lebih berilmu, Imam asy-Syafi’i atau guru bapak?”, “Oh ya jelas Imam asy-Syafi’i, masa guru saya.” “Imam asy-Syafi’i juga berkata, ‘Jangan ambil ucapanku, ambil darimana saya mengambil.’ Kok bapak ini memperlakukan guru bapak melebihi Imam asy-Syafi’i?” Akhirnya ujung-ujungnya sama, “Guru saya, guru saya.” Ini kadang seperti itu keadaannya. Sebagian manusia, bentuk dari ghuluw masuk di dalam berbagai hal. Kadang masuk derajat kesyirikan, derajat bid’ah, derajat khurafat, atau penyimpangan, dan sebagainya karena ghuluw itu luas cakupannya. Ekstrim dan berlebihan. Syaikh di sini, dari cara menerangkan enam dasar pokok, beliau terangkan dasar pokoknya lalu dibandingkan dengan keadaan manusia yang terjadi. Jadi, ikhlas itu jelas dan syirik itu jelas. Dari buku-buku yang telah dipelajari sebelumnya, sudah terang apa itu tauhid dan syirik. Sudah jelas semuanya, tapi tiba-tiba berubah, yang harusnya itu syirik menjadi tauhid dan yang tauhid menjadi syirik. Itu berubah di tengah mereka dan itulah kekeliruan yang terjadi. Pokok Kedua Allah memerintahkan untuk bersatu dalam agama dan melarang terhadap perpecahan. Allah telah menjelaskan hal ini dengan penjelasan sangat memuaskan yang dipahami oleh kalangan awam. (Allah) telah melarang kita untuk seperti orang-orang sebelum kita yang terpecah dan berselisih, kemudian mereka dibinasakan. (Allah) telah menyebutkan bahwa Dia memerintah kaum muslimin untuk bersatu dalam agama dan melarang mereka berpecah di dalam agama. Kejelasan ini semakin bertambah terang dengan tuntunan yang telah datang dari sunnah (Rasulullah ) berupa keajaiban yang sangat menakjubkan dalam hal tersebut. Kemudian, perkara berubah sehingga perpecahan dalam pokokpokok agama dan cabang-cabangnya (dianggap) sebagai ilmu dan fiqih dalam agama, juga perkara berubah sehingga persatuan menjadi hal yang tidak diucapkan, kecuali oleh seseorang yang dipandang sebagai zindiq atau majnuun (orang gila). 18 | Enam Landasan Pokok dalam Agama 1. Perintah agar bersatu/bersama & larangan berpecah serta jelasnya keterangan hal tersebut di dalam alQuran dan as-Sunnah Perintah untuk bersatu dan larangan untuk berpecah sudah jelas di dalam al-Quran, semakin diperjelas lagi di dalam al-Hadits. Semuanya adalah keajaiban yang sangat menakjubkan. Luar biasa syariat Islam di dalam menjelaskan hal ini. Saya akan sebutkan beberapa ayat dan hadits, [Ayat pertama] Allah berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orangorang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” [QS. AliImran: 103] Dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal dan membenci tiga hal bagi kalian. Dia meridhai kalian untuk 1 menyembah-Nya, dan 2 tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, serta 3 berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah dan tidak berpecah belah. Dia pun membenci tiga hal bagi kalian, 1menceritakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, 2banyak bertanya, dan 3membuang-buang harta.” [HR. Muslim no. 1715] Semuanya menunjukkan perintah untuk bersatu dan berpecah belah. [Ayat kedua] Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka.” [QS. al-An’am: 159] [Ayat ketiga] Allah berfirman, “Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” [QS. asy-Syura: 13] Dalam ayat disebutkan ulul azmi, wakil dari para nabi dan rasul, ini yang paling mulianya. Kalau ulul azmi disebut, maka sudah mewakili semuanya. 20 | Enam Landasan Pokok dalam Agama [Ayat keempat] Allah berfirman, “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.” [QS. AliImran: 105] [Ayat kelima] Allah berfirman, “Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [QS. ar-Ruum: 31-32] Masih ada ayat-ayat yang lain, namun kita ringkas. Adapun dari hadits-hadits Nabi Muhammad , seperti dikatakan penulis terdapat keajaiban bagaimana dicelanya perpecahan ini. Dan di dalam syariat diatur dan mengarah kepada persatuan, menjaga keutuhan agama. Karena itu, semua bidang ilmu itu menjaga supaya umat ini istiqomah di jalan yang lurus dan bersatu di atas agama, menghindari segala bentuk perpecahan. Karena terjadinya perpecahan, itu dasarnya karena keluar dari ilmu. Begitu keluar dari ilmu, dia pasti berpecah. Begitu dia kenal ilmu, maka ilmu inilah yang menyatukan. Kalau ada yang mengajak umat untuk persatuan, tapi tidak diajari dengan ilmu, itu namanya berhayal / berangan-angan. Jalan mempersatukan umat adalah mengajarkan ilmu kepada mereka. Karena itu, dalam al-Quran dan as-Sunnah, diterangkan tentang persatuan itu bentuknya apa, perpecahan itu bentuknya apa. Wasilahwasilah yang menyambung ke sana itu apa, sebab-sebab terjadinya persatuan dan perpecahan itu apa, lalu didatangkan solusi atau obatnya. 2. Penyelewengan makna perpecahan dalam pokokpokok dan cabang-cabang agama bahwa itulah ilmu dan fiqih dalam agama Oleh penulis dikatakan, ini telah terang dengan memuaskan, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kalau belajar ilmu aqidah misalnya, ada suatu masalah, para ulama sepakat dalam hal tersebut, diterangkan dalilnya, malah dianggap aneh. “Kamu itu ilmunya kurang dalam, harusnya begini… begini..” Senangnya cari hal-hal yang sebenarnya syubhat (kerancuan), ini ada sebagian manusia seperti itu. Terjadi banyak perubahan pada masalah pokok (pembahasan aqidah dan tauhid) dan masalah cabang (pembahasan fiqih). Maka itu dianggap sebagai ilmu. Kalau ditegur, “Kamu kenapa mengucapkan seperti itu?” Misalnya dijelaskan bahwa tidak boleh mengucapkan salam kepada orang kafir pada hari perayaan mereka. Itu disepakati oleh para ulama (tentang haramnya), bukan hal yang diperselisihkan. Nukilan kesepakatan dibawakan oleh Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Ahkam ad-Diin, dan dijelaskan oleh yang lainnya. Dan tidak ada dalam buku-buku fiqih yang menunjukkan kebalikannya. Kemudian, perkara berubah sehingga perpecahan dalam pokokpokok agama dan cabang-cabangnya (dianggap) sebagai ilmu dan fikih dalam agama. 22 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Kalau ada yang berkata seperti itu, lantas mereka katakan, “Kamu ini ingin memecah belah manusia, membuat perseteruan di masyarakat.” Akhirnya ‘perintah untuk bersatu’ dianggap sebagai ‘perpecahan’, sedangkan ‘hal yang dianggap perpecahan dalam agama’ justru malah dianggap sebagai ‘persatuan’ oleh mereka. Para ulama bersepakat dalam hal ini, namun malah diperselisihkan, “Oh tidak, kita boleh dan bebas untuk menyelisihi, bebas untuk tidak mengambil.” Akhirnya, terjadi kerusakan. Padahal perintah untuk bersatu dan menghindari perpecahan adalah prinsip yang sangat terang di dalam agama. Saat diajak ke situ, dianggap aneh. Ini terjadi di banyak hal, sama dengan kelompok-kelompok yang sekarang menisbatkan kepada Islam, jamaah-jamaah. Kalau diajak untuk meninggalkan simbol-simbol jamaahnya, “Kembalilah kalian kepada alQuran dan as-Sunnah, tinggalkan jamaah dan kelompok kalian.” Mereka akan teriak, “Oh ini orang memecah belah agama dan kaum muslimin. Mengkotak-kotak manusia.” Padahal ini diajak untuk kembali kepada al-Quran & as-Sunnah. Maka inilah yang diingatkan oleh penulis. 3. Perintah agar bersatu/bersama dianggap tidak diucapkan, kecuali orang yang dipandang zindiq atau orang gila Juga perkara berubah sehingga persatuan menjadi hal yang tidak diucapkan, kecuali oleh seseorang yang dipandang sebagai zindiq atau majnuun (orang gila). Zindiq ini bahasa dahulu, nama lain untuk munafik. Kalau sekarang zindiq itu seperti liberalisme. Perintah untuk bersatu dianggap zindiq, saat diajak berpegang pada perkara pokok dalam agama ‘mendengar taat dan pada pemerintah’, dianggap penjilat pemerintah. Padahal ini masalah yang jelas dan terang. Diajak untuk bersatu dalam kepemimpinan seorang pemimpin, dianggap ucapan zindiq, majnuun dan seterusnya yang memang terdengar dari bahasa-bahasa manusia. Apa yang diterangkan oleh syaikh di sini memang betul-betul perkara yang terjadi dan itulah kondisi yang dialami oleh manusia di masa beliau. Tampak dari sini, dasar yang kedua. Perintah untuk bersatu dan menghindari perpecahan, perkara yang jelas dalam agama. Ternyata perkara yang jelas ini terbalik. Karena orang-orang yang senang pada perpecahan, itu mengajak umat keluar dari jalur. Akhirnya kalau umat diajak kembali kepada alQuran dan as-Sunnah, maka itu adalah hal yang mengkhawatirkan mereka. Karena itu, dirubah pembahasaan-pembahasaan. Ini dua hal yang disebut oleh penulis. Perpecahan dianggap ilmu dan fiqih, akhirnya lancang terhadap agama, gampang berkomentar. Padahal kalau dia berpikir sedikit misalnya, ini masalah yang telah disepakati oleh ulama dari dulu. Kamu baru lahir tiba-tiba menyelisihi? Kan harusnya begitu. “Dia umurnya sudah 90 tahun masa dikatakan anak kemarin sore?” Baik, umur 90 tahun, dia lahir tahun berapa? Anggaplah dia lahir tahun 1945, Islam ini lahir di tahun berapa? Umat ini sudah ada dari lebih 1000 tahun sebelumnya, baru tiba-tiba dia muncul mengatakan fiqih terhadap hal tersebut? 24 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Karena itu, ketika muncul bid’ah, Ayyûb as-Sikhtiyâni (ulama tabi’in) berkata, “Apa itu … ? Saya lebih besar (tua) darinya!” Walaupun umurnya mungkin tidak setua itu, maksudnya karena beliau ‘lebih tua’ dalam mengikuti Rasulullah & para sahabat. Karena itu, saat terjadi perselisihan dan perpecahan Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian kembali kepada urusan yang pertama kali.” [HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr, no. 3307] Itulah jalannya Nabi dan para sahabatnya. Jadi harus dipahami bahwa landasan pokok ini (perintah untuk bersatu) sangatlah penting. Karena itu, dakwah Ahlus Sunnah mengajak dan menjalin kebersamaan. Mereka yang paling mengerti sudut-sudut yang membuat umat ini bersatu. Ahlus Sunnah tidak ribet melihat mereka, duduk mengajar menyampaikan ilmu. Tidak ada yang sibuk mengurusi politik, cari kursi, kumpul massa, sebab itu bukanlah jalan persatuan, bahkan itu adalah sebab perpecahan. Telah dikenal oleh orang-orang yang belajar sunnah. Tapi lihat, orang-orang yang tidak kenal sunnah, kalau dia berhasil mengumpulkan massa atau bikin aksi, katanya, “Masyaallah, umat Islam ini bersatu, bayangkan berapa juta orang yang berkumpul.” Dalam hukum syariat, itu perpecahan namanya. Itu istilah terbalik, kalau ada yang mengingkari malah dianggap musuh Islam. “Orang bikin aksi damai Islam, kok dia melarang ada demo-demo. Ini pasti musuh Islam, antek orang-orang kafir, pasti dibayar.” Seperti itulah bahasabahasa yang keluar. Padahal perintah bersatu dan larangan berpecah itu jelas dalam alQuran dan as-Sunnah. Tidak ada dalam agama kita mengobati masalah dengan cara seperti itu. Cara ribut-ribut seperti itu, awal kali dikenal pada masa Utsman bin Affan yang didemo oleh kaum Khawarij. Ini saya lihat foto dan video, bahwa ada yang berkata, “Demonstrasi itu ada ulama salaf atau pendahulunya.” Coba bayangkan, inilah talbis. Lihat, orang yang menganggap dirinya belajar saja cara berpikirnya seperti itu. Betul memang ada salafnya, tapi salaf mereka yaitu kaum Khawarij yang mendahuluinya, merekalah yang mendemo Utsman bin Affan . Itulah awal kali yang membuat acara ribut-ribut dan demo-demo. Ini dari pokok-pokok agama yang jelas. Untuk menyatukan itu ada jalur-jalurnya. Memilih pemimpin itu bagaimana, itu ada caranya dalam syariat. Dicontohkan oleh para sahabat dan itu yang mereka warisi. Dalam mengatur sebuah negeri, menjaga kebersamaan, hukumhukum seputar peradilan, di dalam ibadah-ibadah yang terikat dengan kebersamaan, itu dipelihara. Dalam hukum-hukum muamalah agar terjalin kebersamaan itu dijaga, pokoknya untuk menjaga kebersamaan. Demikian pula hukum nikah, dan sebagainya. Banyak hal yang diatur di dalam agama. Kemudian sekarang ini muncul orang-orang yang menganggap ‘perpecahan dalam aqidah dan fiqih’ dianggap ‘ilmu’. Kalau diajak untuk ‘bersatu’ malah dianggap ‘zindiq, gila, dan dituduh dengan gelar-gelar yang tidak baik’. Ini banyak yang terbalik dari hal yang seperti itu, dari hal yang sangat menyedihkan yang terjadi di tengah manusia. 26 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Pokok Ketiga Sesungguhnya di antara kesempurnaan persatuan adalah mendengar dan taat kepada siapa saja yang menjadi pemerintah kita, walaupun dia adalah seorang budak Habasyah (Ethiopia). Allah telah menjelaskan hal ini dengan penjelasan yang terkenal lagi tersebar dari segala sisi dari bentuk-bentuk penjelasan baik secara syara’ dan qadar. Selanjutnya, dasar pokok ini menjadi hal yang tidak dikenal pada kebanyakan orang yang mengaku berilmu, lantas bagaimana bisa beramal dengannya? 1. Kewajiban mendengar dan taat kepada pemerintah serta hal itu merupakan kesempurnaan bersatu Buku-buku seperti ini di kalangan hizbiyyin tidak diajarkan, tidak mungkin. Sebab buku ini menyingkap wajah Islam yang benar. Memang masih ada sebagian hizbiyyin, yang memang mengajarkan tauhid, walaupun kadang-kadang baca Kitabut Tauhid, Tsalatsatul Ushul, tapi kalau buku yang seperti ini, tidak ada sejarahnya mereka mengajarkan. Tidak ada dari orang-orang haroki atau hizbiyyin, tidak pula dari kalangan takfiriyyin. Ada sekarang orang-orang takfiri yang suka membuat peledakanpeledakan itu, kadang dia mengajarkan Kitabut Tauhid, tapi bukan buku-buku seperti ini. Tidak ada di dalam kamus mereka, sebab ini akan menyingkap kekeliruan ‘apa yang mereka kerjakan’. Apalagi terkait pokok yang ketiga ini, bagi mereka ini yang paling momok. Kalau pakai bahasa orang sekarang, ini hantu yang sangat menyeramkan. Maka mereka tidak ingin membahas hal yang seperti ini. Di pokok kedua, telah dibahas perintah untuk bersatu. Di pokok ketiga, dijelaskan kesempurnaan bersatu, menunjukkan persatuan itu dibangun atas pokok yang lain pula, yaitu mendengar dan taat kepada pemerintah meski dia seorang budak Habasy. Secara syara’ maksudnya dari sisi syar’inya. Diterangkan hukumhukum syar’i, tentang wajibnya mendengar dan taat kepada manusia. Adapun secara qadar, diterangkan bahwa manusia memang hidupnya seperti itu, ditakdirkan harus ada pemimpin, dan pemimpin itu ada untuk didengar dan ditaati. Allahberfirman, “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini.” [QS. al-Baqarah: 251] Sesungguhnya di antara kesempurnaan persatuan adalah mendengar dan taat kepada siapa saja yang menjadi pemerintah kita, walaupun dia adalah seorang budak Habasyah (Ethiopia). Allah telah menjelaskan hal ini dengan penjelasan yang terkenal lagi tersebar dari segala sisi dari bentuk-bentuk penjelasan baik secara syara’ dan qadar. 28 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Dibuat pemimpin agar terjalin kebaikan, jika tidak ada pemimpin maka yang terjadi adalah hukum rimba. Dan hukum rimba kalau sudah terjadi adalah yang kuat akan memangsa yang lemah. Dan yang lemah ini tidak ada yang melindunginya. Maka dari hikmah Allah, ini adalah ketentuan secara syar’i & qodari, adanya pemimpin di tengah mereka. Ini diterangkan oleh penulis. Banyak dalil yang menunjukkan hal tersebut, diantaranya yaitu firman Allah, “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.” [QS. AliImran: 105] Peringatan kepada umat, jangan mengikuti umat-umat terdahulu yang berselisih kalimat mereka, jamaah mereka sehingga berkelompokkelompok, akibatnya turun siksaan yang pedih. Allah juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [QS. an-Nisa: 59] Ulil amri adalah ulama dan umara Dalam ayat ini (QS. an-Nisa: 59), ada perintah kepada Allah itu tersendiri, kepada rasul itu sendiri, taat kepada ulil amri sepanjang mereka taat kepada Allah dan Rasul. Karena itu, ketika datang perintah Allah, datang perintahnya tersendiri. Begitu datang perintah taat kepada Rasul, datang perintahnya tersendiri. Namun, begitu datang perintah taat kepada ulil amri, hanya diikutkan saja (tidak diulangi kata perintahnya). Ketaatan kepada ulil amri sepanjang bukan dosa dan maksiat, karena itu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya, ketaatan hanyalah dalam hal yang ma’ruf.” [HR. alBukhari dan Muslim] Allah berfirman, “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri).” [QS. an-Nisa: 83] 30 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Tentang bai’at kepada pemimpin Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” [QS. alMaidah: 1] Akad itu bermacam-macam, ada akad yang wajib seperti seseorang mengambil akad (perjanjian) kepada Allah: dia akan shalat, puasa, dll. Ada akad muamalah: jual beli, nikah, dan yang terbesarnya itu bai’at kepada pemerintah. Setiap warga negera yang pemimpinnya muslim, itu di atas kepalanya ada bai’at kepada pemerintah. Itu hukum syari, jangan dikatakan “Saya tidak pernah datang kepada pemerintah, meletakkan tangan saya ke tangan dia, saya bai’at engkau.” Memang tidak mesti seperti itu, kalau seperti itu letih juga pemerintahnya. Kalau ada pemerintah seperti di negara-negara Islam, misalnya di Arab Saudi ada pergantian raja, yang membai’at Raja Salman itu beberapa orang tertentu saja, tokoh-tokoh di setiap daerah, ulamanya, pemimpinnya datang membai’at, sedangkan yang lainnya membai’at otomatis di atas kepalanya. Ini dari hikmah dalam syariat, karena bai’at itu dilakukan oleh Ahlu Halli wal-‘Aqd, orang yang di tangannya memberikan keputusan dalam negeri, ditokohkan dan dipandang dalam negeri tersebut. Adapun terhadap umat Islam, di dalam sebuah negeri, seperti di Indonesia, terhadap pimpinan presiden, kita ada bai’at di atas kepala (ini akad namanya, kita wajib untuk memenuhinya). Ini jelas dalam al-Quran, kalau diterangkan banyak sudut dan sisi dalam agama. Dari hadits Rasulullahbanyak sekali yang menjelaskan tentang hal ini, dari hadits-hadits yang mutawatir. Solusi ketika terjadi fitnah-fitnah di tengah umat Dari hadits Hudzaifah, diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim. Hudzaifah bertanya, “Wahai Rasûlullâh, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpai hal itu (fitnah-fitnah)?’ Beliau menjawab, “Engkau harus tetap berkomitmen terhadap jama’ah kaum muslimin dan imam mereka.” Lalu Hudzaifah bertanya lagi, ‘Bagaimana jika tidak ada jama’ah dan imam?’ Beliau bersabda, “Maka tinggalkan seluruh firqah-firqah tersebut, walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai ajal kematian menjemputmu, dan engkau tetap dalam keadaan seperti itu.”1 Pemimpin itu memang dijadikan untuk menyatukan. Tidak ada yang menyatukan jika orang-orang jahil yang memimpin. Ketika tidak ada yang memimpin, hanya ikuti kelompok-kelompok, para juhaal (orang-orang bodoh) maka terjadi perselisihan dan tidak ada persatuan. Karena itu, dari kesempurnaan persatuan adalah mendengar dan taat kepada pemimpin. 1 HR. Bukhari, no. 3606, 3607 dan Muslim, no. 1847 32 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Seorang penyair Arab Jahiliyyah, al-Afwah al-Audi ( (berkata, “Tidak benar membiarkan manusia dalam keadaan kacau tanpa ada yang menyatukan mereka. Dan tidak ada yang menyatukan jika orang-orang bodoh yang memimpin.” [al-‘Iqdul-Farîd, 1/11] Mendengar dan taat kepada pemimpin merupakan pokok aqidah Ahlus Sunnah dan tidak mesti pemimpinnya bagus dari segala sisi Tidak mesti pemimpin yang shalih, bahkan pemimpin yang fajir dan berlaku semena-mena kepada umat, sepanjang dia masih muslim, dia wajib didengar dan ditaati dalam hal yang ma’ruf. Ini prinsip agama yang tidak bisa ditawar-tawar, ini telah disepakati oleh para ulama dari masa ke masa. Ini disampaikan oleh para ulama dan mereka tidak mencari ridha siapa pun. Diucapkan oleh para Imam; Imam Malik bukan PNS, Imam Ahmad bukan menteri, Imam Syafi’i bukan penasihat raja atau khalifah. Mereka tidak ada hubungannya dengan pemerintahan, bukan pegawai yang digaji bulanan, tapi mereka menyampaikan hal yang merupakan agama. Mereka semua memiliki ucapan yang sama, yaitu tentang wajibnya mendengar dan taat kepada pemimpin, walaupun pemimpin tersebut berlaku zholim. Maka, inilah prinsip agama. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, Nabibersabda, “Barangsiapa yang membai’at kepada seorang imam (penguasa), ia memberikan telapak tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah ia mentaatinya sesuai dengan kemampuannya, jika kemudian ada orang lain yang menentangnya, maka penggallah leher orang itu”. [HR Muslim] Melakukan Kudeta tidak dibenarkan dalam Islam Ini prinsip Islam yang harus dikenal. Karena itu, yang terjadi di Indonesia tahun 1998 itu sama sekali bukan hal yang dibenarkan di dalam Islam. Itu adalah perbuatannya kaum Khawarij dan orang-orang yang dikatakan bughaat (pemberontak), bukan syariat Islam sama sekali. Apa yang terjadi di beberapa negara di timur tengah, itu dari serangan musuh-musuh Islam terhadap umat Islam, dibuat mereka berpecah belah. Akhirnya menggulingkan pemerintahnya, terjadilah kekacauan, dan krisis berkepanjangan. Ini harus diketahui bahwa Rasulullah telah memberikan tuntunan. Memang tuntunan Rasulullah untuk mendekatkan dan memperbaiki. Perintah mendengar dan taat kepada pemimpin itu banyak sekali hadits-haditsnya. Hadits dari Ubadah bin ash-Shamit, “Kami berbai’at (kepada Rasulullah untuk mendengar dan taat (kepada pemerintah), baik kami dalam keadaan semangat ataupun lemah (terpaksa), keadaan sulit ataupun mudah, dan dalam keadaan (pemerintah zholim atau mementingkan dirinya sendiri). Selain itu, agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya, kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata di sisi kalian, berdasarkan dalil (bukti) yang kuat dari Allah Ta’ala.” [HR. Bukhari no. 7055 dan Muslim, no. 1840] 34 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Tidak boleh kita mengganggu kekuasaan dari pemiliknya, kecuali kalau terlihat kekafiran yang nyata. Kalau ada yang bertanya, “Kapan boleh kudeta pemerintah?” Ada syaratnya: 1. Terlihat kekafiran yang nyata (bukan kefasikan) 2. Jelas (bukan perkara yang diperselisihkan) 3. Terlihat dengan mata, bukan hanya dengar-dengar saja (lihat di berita itu bukan melihat, yang namanya melihat itu dia hadir dan melihat langsung dengan mata kepala) 4. Ada burhan (argumen) yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Tidak ada yang berani seperti ini kecuali para ulama, karena ini bukan untuk konsumsinya orang awam. Yang jadi masalah dan sebab kerusakan di negeri ini, karena tidak ada penghormatan kepada pemerintah. Kalau ada masalah, semuanya berbicara, bahkan dari lapisan terbawah pun ikut berbicara. Kalau dulu, dengar pembahasan politik itu hanya bisa didapati di gedung MPR. Adapun sekarang, sudah ramai di warkop, tukang becak juga sudah bicara politik. Ini karena sudah dibuka di tengah masyarakat, akhirnya kerusakan merata. Padahal ini adalah pokok dalam agama. Terlihat di sini, asingnya Ahlus Sunnah. Saat ada yang menyampaikan ‘seperti itu’, heran manusia. Sampai saya pernah khutbah di suatu masjid perumahan, hadir pula para dosen dan rektor, saya sampaikan sebuah hadits tentang menasihati pemerintah. Dari ‘Iyadh bin Ghunm , Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang ingin menasihati kepada penguasa, janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Kalau penguasa itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik. Dan bila si penguasa itu enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya.” [HR. Ahmad dan al-Hakim] Subhanallah, beliau-beliau adalah kalangan terpelajar akan tetapi baru mendengar hadits tersebut. Kira-kira bagaimana dengan kalangan yang lainnya? Ini sekarang repot, di kalangan yang dianggap beragama, “Wah ini kelompok ini, ormas Islam, banyak pondok & pendidikannya.” Giliran ada kebijakan pemerintah yang tidak disetujui, didemo juga. Bahkan ada sebagian santri yang teriak, bunuh menterinya. Kok bisa dari orang yang dipandang belajar agama, keluar kalimat seperti itu? Ini menunjukkan kerusakan keyakinan. Ini prinsip kalau disampaikan itu diberi gelarnya macam-macam. Ini prinsip yang membedakan antara yang haq dan batil, hampir setiap buku aqidah menyebutkannya. Ini dari tonggak yang menyatukan umat. Kalau umat mengenal pokok ini dengan baik, maka menjadi sebab terciptanya keamanan sebuah negeri. Kalau ada masalah harusnya diselesaikan dengan cara yang baik, tidak ribut-ribut. Pintu nasihat itu terbuka, nasihatilah orang yang bersangkutan, jangan teriak-teriak di jalan. Kasihan mimbar Jumat digetar sana sini, hanya mengikuti hawa nafsunya. Ini harus diperbaiki, apalagi mimbar Jumat dijadikan sarana untuk hal yang seperti ini, hendaknya dia bertakwa kepada Allah, karena dia tidak menggunakan mimbar Jumat pada hal yang disyariatkan. 36 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Penyelewengan maksud ammar ma’ruf nahi munkar Ucapan syaikh benar sekali, bahkan ini dianggap syubhat. Kalau ada yang menyampaikan ketaatan dianggap syubhat. Inilah bahaya dari sebagian pemikiran bid’ah, karena dari ushul kaum Khawarij dan Mu’tazilah itu ada ammar ma’ruf nahi munkar. Bahasanya meyakinkan, tapi maksud mereka itu mengkudeta pemerintah. Itu dipakai dari dahulu, Ahlul Bid’ah pakai bahasa syariat tapi diarahkan kepada bid’ahnya. Itu terlihat yang memakai gaya seperti ini dan selalu ada di tiap masa, alasannya ammar ma’ruf nahi munkar. Ammar ma’ruf nahi munkar itu ada ketentuan-ketentuan dan syaratsyaratnya, yang paling pokoknya: Seseorang merubah apa yang berada dalam wewenangnya Apa yang bukan wewenangnya, misalnya fasilitas umum, maka bukan wewenang orang perorangan atau ormas, melainkan wewenang pemerintah Karena itu, dalam syariat ini tidak ada yang namanya main hakim sendiri. Pergi seenaknya sendirian, sweeping tempat-tempat tertentu misalnya, yang dianggap ada pelanggaran. Betul dia benci kepada kemaksiatan, benci dalam hati, rubah dengan lisan (tegur), tapi merubah dengan tangan pada hal yang terkait dengan umum, itu wewenangnya pemerintah, tanggung jawab mereka bukan tanggung jawab kita. Kalau ingin menasihati, nasihati pemerintahnya agar merubah kemungkaran tersebut. Allah telah menjelaskan hal ini dengan penjelasan yang terkenal lagi tersebar dari segala sisi dari bentuk-bentuk penjelasan baik secara syara’ dan qadar. Selanjutnya, dasar pokok ini menjadi hal yang tidak dikenal pada kebanyakan orang yang mengaku berilmu, lantas bagaimana bisa beramal dengannya? Main hakim sendiri itu merusak Adapun main hakim sendiri itu tidak dikenal dalam syariat, sebab memberi hukum untuk merusak, membakar, ini hukum peradilan yang harus dijatuhkan. Apalagi jika terkait dengan hukum potong tangan, cambuk, dan hukum mati, itu harus benar-benar dihitung di peradilan. Didatangkan saksi-saksi, diperiksa, baru dijatuhi hukumannya. Ini sudah keluar dari ketaatan dan akhirnya liar di sana sini, main hakim sendiri. Ada orang lari lalu dikejar, padahal tidak tahu mana yang benar, apakah yang dikejar atau yang mengejar. Tapi sekarang itu sudah menjadi istilah umum, kalau misalnya dia mau benar, tinggal teriak saja “Pencuri-pencuri..” sedangkan orangorang tidak tahu dan langsung dia dianggap pencuri. Akhirnya terjadi kasus-kasus, orang yang dicurigai mencuri hp, tewas karena dipukul (padahal baru dicurigai). Andai pun terbukti mencuri hp, dalam hukum syar’i tidak dipukul, melainkan dipotong tangannya (kalau hp-nya harga di atas rata-rata). Tapi kalau hp-nya zaman dahulu (sangat murah, 20 ribu saja tidak laku), maka hp seperti itu tidak sampai dijatuhi hukum potong tangan. Adapun jika hp-nya dicuri di luar, disimpan di atas mejanya, maka tidak ada hukum potong tangan. Potong tangan itu kalau ada barang yang disimpan di dalam penjagaannya. Inilah perlunya pengadilan, karena di pengadilan akan ditanya dulu, “Ini dicuri dimana?” Sedangkan banyak kasus tidak ditanya, langsung main pukul. Ini adalah kezholiman yang terjadi terhadap manusia. Ada juga yang dicurigai mencuri sound system masjid, akhirnya tewas dibakar. Lihat, sampai seperti ini kejadiannya. 38 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Jika di masa Umar bin Khaththab, tidak akan ada orang-orang seperti itu. Pernah terjadi kejadian di Shan’a, Yaman, ada satu orang dibunuh atas kesepakatan beberapa orang, maka beberapa orang ini ditanya kepada Umar, “Apakah mereka dibunuh semuanya?” Kata Umar bin Khatthab , “Andaikata satu kota Shan’a semua berserikat membunuh orang ini, maka saya akan bunuh mereka semua.” Mereka berserikat untuk menumpahkan darah seorang muslim. Ini fiqih yang besar dari Umar , beliau tidak melihat jumlah tetapi menjaga kehormatan syariat, penghormatan terhadap jiwa. Karena dalam al-Quran dikatakan, “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” [QS. al-Maidah: 32] Ini harus dipahami, masalah yang jelas dan terang, apalagi bagi penuntut ilmu. Kalau kita membahas mendengar dan taat kepada pemerintah, itu dibahas oleh para ulama di buku-buku aqidah, buku fiqih, hadits, siyaasah asy-syar’iyyah, ada pembahasannya. Ini dari pembahasan yang banyak diuraikan, di buku-buku akhlak juga ditulis tentang hal ini. Bukan perkara yang tersembunyi. Tapi sekarang, perkara ini tidak dikenal oleh orang-orang yang mengaku beragama, lalu bagaimana bisa diamalkan? Karena itu, di sini ada peranan Ahlus Sunnah untuk menyampaikan dari prinsip-prinsip agama. Ahlul Batil saja berani menyampaikan kebatilan dan mereka bersemangat, tapi Ahlus Sunnah loyo-loyo dan santai-santai saja, bagaimana bisa sampai kebenaran kepada manusia? Di sinilah dia manfaatkan di mana dia hidup, di masa manusia perlu kebaikan, ilmu, dia berserikat di dalamnya. Dia menyampaikan ilmu, belajar dengan baik, paling tidak dia mengajak dan mengarahkan manusia untuk belajar sunnah. Apalagi sekarang, alhamdulillah, kita dimudahkan dengan berbagai media, rekaman dan seterusnya untuk dibagikan, supaya mereka mendengarnya, mempelajarinya kemudian mengamalkannya di dalam kehidupan. 2. Mendengar dan taat kepada siapa saja yang menjadi pemimpin, walaupun seorang budak Habsy Dari Abu Najih al-‘Irbadh bin Sariyah, ia berkata, “Rasulullah memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati menjadi bergetar dan mata menangis, maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah! Sepertinya ini adalah wasiat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah wasiat kepada kami.’ 40 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Nabi bersabda, ‘Aku berwasiat kepada kalian, supaya bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin alMahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.” [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan sahih] Perhatikan wasiat Nabi, yang pertama adalah perintah untuk bertakwa kepada Allah lalu mendengar & taat kepada pemimpin. Maka berpegang dengan wasiat Nabi ini yang menyelamatkan umat, menghindarkan dari perselisihan dan perpecahan. Karena itu, mudah sekali seseorang dalam beragama, tidak perlu ribut-ribut. Dan dari dulu, dari sejarah Indonesia ini, selalu umat Islam yang menjaga negeri karena itu adalah prinsip agama. Ada yang mau menggugat misalnya dalam kepemimpinan, itu akan terlihat bagaimana umat Islam yang berdiri tegak melawan Belanda. Begitu ada yang mau memberontak, kita tahu sejarahnya Jenderal Sudirman bagaimana dalam memimpin peperangan untuk hal tersebut, semuanya karena memang dibangun di atas dasar agama, ada keyakinan umat di dalamnya. Dan Islam itu selalu mengarahkan kepada kebaikan, apalagi kalau kita belajar prinsip syariat dengan benar, kita tanamkan dalam diri, keluarga, masyarakat, maka akan menjadi bagus. Dalam sebagian riwayat, dari Abu Dzar al-Ghifari, “Sesungguhnya kekasihku (Rasulullah) telah berwasiat kepadaku untuk selalu mendengar & taat, sekalipun pemimpinku adalah seorang budak Habsy yang cacat anggota tubuhnya.” [HR. al-Bukhari] Di riwayat lain dalam shahih al-Bukhari, dari Anas bin Malik, “Mendengar dan taatlah kalian, walaupun yang menjadi pemimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah yang kepalanya seakan-akan seperti kismis.” [HR. al-Bukhari] Bisa dibayangkan jika ada budak Habsy yang seperti itu, dan yang seperti itu (jika dia jadi pemimpin) maka didengar dan ditaati. Pada matan kitab, ( ( kata taammara kadang digunakan ketika diangkat sebagai amiir. Ada pemimpin negara, lalu dia tunjuk budak jadi pemimpin, maka budak yang ditunjuk ini didengar dan ditaati. Atau taammara, jika dia memberontak pemerintah dan akhirnya berkuasa, maka dia (si pemberontak yang berkuasa) tetap didengar dan ditaati. Semua ini dari prinsip-prinsip agung di dalam agama kita. 3. Kejahilan banyak orang yang mengaku berilmu tentang prinsip pokok yang agung ini Ini sudah kita bahas, dari musibah yang merata di tengah umat. Karena itu saya tegaskan, agar lebih giat dalam belajar, serius memperbaiki diri, mempelajari ilmu agama, menekuni prinsip agama ini. Sebab dalam memahami prinsip agama ini, di situlah ketenangan manusia, kebaikan, apalagi diamalkan di tengah manusia, maka itu adalah sebab kebersamaan dan menjaga keutuhan di dalam negeri. 42 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Pokok Keempat Penjelasan tentang ilmu dan ulama, penjelasan fiqih dan fuqaha, serta penjelasan orang-orang yang (sok) menyerupai mereka padahal bukan termasuk mereka. Dan sungguh Allah Ta’ala telah menjelaskan pokok ini di awal surah al-Baqarah, dari firman-Nya (yang artinya), “Wahai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian…” [QS. al-Baqarah: 40] hingga firman-Nya sebelum penyebutan Nabi Ibrahim (yang artinya), “Wahai Bani Israil, ingatlah (oleh kalian)…” [QS. al-Baqarah: 122]. (Dasar pokok ini) bertambah jelas dengan penegasan sunnah Nabi dalam hal ini berupa ucapan-ucapan yang sangat banyak, yang jelas dan terang bagi orang awam yang sulit memahami. Lalu, hal ini menjadi perkara teraneh, ilmu dan fiqih berubah menjadi bid’ah-bid’ah dan kesesatan-kesesatan. Yang terbaik di sisi mereka adalah menyamarkan kebenaran dengan kebatilan. Berubahlah ilmu yang Allah Ta’ala wajibkan kepada makhluk dan Allah puji, tidaklah yang membicarakan kecuali dianggap sebagai zindiq atau orang gila. Orang yang mengingkari dan memusuhi (ilmu) serta bersungguhsungguh dalam mentahdzir (ilmu) dan melarang (ilmu) justru menjadi seorang faqih yang berilmu. Pokok ini adalah pokok yang besar, hal yang sangat besar di dalam agama. Karena ilmu itu diterangkan apa itu ilmu, fiqih diterangkan apa itu fiqih, orang-orang yang berilmu dijelaskan siapa yang berilmu, fuqaha dijelaskan siapa yang ahli fiqih, itu semua dijelaskan. Bukan hanya itu saja, bahkan dijelaskan pula orang yang mengaku ulama tapi tidak termasuk ulama. Ini semuanya jelas. Uraiannya di dalam al-Quran dan as-Sunnah banyak sekali, ada satu pembahasan di buku Manzhumah al-Mimiyyah. Di situ dijelaskan apa itu ilmu, bagaimana sifat orang yang dikatakan berilmu, dan seterusnya. Di sini penulis mengingatkan bahwa ini dari pokok di dalam agama. Jangan dibalik-balik, dirubah, dan disamarkan maknanya. Ulama dikatakan orang jahil dan orang yang jahil dikatakan ulama. 44 | Enam Landasan Pokok dalam Agama 1. Penjelasan tentang ilmu dan fiqih serta ulama dan fuqaha Ilmu adalah ilmu yang bermanfaat, fiqih adalah apa yang dengannya seseorang bisa memahami agama. Ilmu dan fiqih yang dimaksud adalah ilmu syariat, tafaqquh di dalam agama. Adapun yang dikatakan ulama, alim, atau faqih, itu orang yang punya ilmu tentang agama Allah, mengerti al-Quran dan as-Sunnah, memberi petunjuk kepada manusia dari al-Quran dan as-Sunnah. Itulah yang dinamakan ulama dan fuqaha, walaupun para ulama itu berjenjang dan bertingkat-tingkat dari sisi kedudukan dan keluasan ilmu. Karena itu, nanti akan disinggung tentang mujtahid, ada yang namanya mujtahid mutlak dan mujtahid muqayyad. Mujtahid mutlak lebih tinggi kedudukannya dari mujtahid muqayyad. Ada alim yang menguasai seluruh cabang ilmu dan ada alim yang khusus menguasai sebagian cabang saja. Karena itu, kalau kita sebut nama Sibawaih , maka beliau adalah alim di pembahasan ilmu nahwu tapi beliau bukan ulama hadits, bukan pula ulama tafsir. Ada Imam al-Kisai , beliau adalah imam di dalam bahasa sekaligus imam qiraah (membaca al-Quran). 2. Penjelasan tentang siapa saja yang sok menyerupai ulama & fuqaha dan orang-orang yang tidak terhitung sebagai ulama dan fuqaha Diterangkan oleh penulis agar dibedakan ulama itu siapa, ini telah dijelaskan dalam al-Quran dan as-Sunnah. Karena itu banyak diberikan perbandingan di dalam al-Quran, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" [QS. az-Zumar: 9] Allah berfirman, “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta?” [QS. ar-Rad: 19] Allah berfirman, “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?” [QS. al-An’am: 122] 3. Penjelasan prinsip pokok ini dari uraian ayat-ayat pada surah al-Baqarah Dan sungguh Allah Ta’ala telah menjelaskan pokok ini di awal surah al-Baqarah, dari firman-Nya, “Wahai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” [QS. alBaqarah: 40] 46 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Hingga firman-Nya sebelum penyebutan Nabi Ibrahim, Jadi kalau kita baca QS. al-Baqarah ayat 40 sampai dengan ayat 122, itu kelihatan siapa yang alim dan siapa yang (sok) menyerupai alim. Bani Israil, kalau memang punya ilmu maka mereka akan mengingat ilmu yang diberikan dan melaksanakan janji, selalu takut kepada Allah. Di ayat setelahnya (QS. al-Baqarah 41-42) dijelaskan, “Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (al-Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.” [41] Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” [42] Ini penjelasan sifat-sifat ulama dan ilmu. Maka datang setelahnya, kelakuan Bani Israil, bagaimana penyimpangan yang dilakukan, keluar dari tuntunan. Maka ini satu tempat dalam al-Quran dijelaskan terang sekali tentang ilmu, ulama, fiqih, dan fuqaha. Dan dibedakan siapa yang ingin menyerupai mereka padahal bukan dari mereka. “Wahai Bani Israil, ingatlah (oleh kalian) akan nikmat-Ku yang telah Kuanugerahkan kepadamu dan Aku telah melabihkan kamu atas segala umat.” [QS. al-Baqarah: 122] 4. Penjelasan prinsip pokok ini dari Sunnah Nabi Nabiberikan perumpamaan-perumpamaan antara orang yang berilmu dan tidak berilmu. Dijelaskan tiga keadaan manusia seperti hujan yang turun, bumi itu ada tiga: Ada yang bisa menyimpan air dan menyerapnya Ada yang hanya menyimpan air saja Ada yang tidak bisa menahan dan menyimpannya Nabi juga terangkan ketika ada orang yang datang ke majelis, ada yang duduk di tempat kosong, duduk di belakang, dan ada yang berpaling. Tiga orang dibedakan dan dirinci tentang ilmu tersebut. Dan ini, penjelasan-penjelasan dari hadits Nabi kalau dirinci banyak sekali, maka pokok ini jelas di dalam hadits Rasulullah. 5. Bentuk-bentuk penyelewengan manusia terhadap ilmu dan fiqih Di sini syaikh menyebutkan beberapa bentuk penyelewengan: Anggapan bahwa ilmu dan fiqih adalah bid’ah-bid’ah & kesesatan Penyamaran antara kebenaran dan kebatilan Tiada yang mengujarkan ilmu wajib, kecuali zindiq / orang gila Siapa saja yang mengingkari, memusuhi, & bersungguh-sungguh mentahdzir ilmu, dialah yang dianggap faqih yang berilmu (Dasar pokok ini) bertambah jelas dengan penegasan sunnah Nabi dalam hal ini berupa ucapan-ucapan yang sangat banyak, yang jelas dan terang bagi orang awam yang sulit memahami. 48 | Enam Landasan Pokok dalam Agama a. Anggapan bahwa ilmu & fiqih adalah bid’ah-bid’ah & kesesatan Muncul istilah-istilah bagi orang yang mau belajar ilmu dan tauhid, “Wah ini Wahhabi” untuk membuat orang lari dari ilmu. “Lalu apa itu sebenarnya Wahhabi? Katanya nisbah kepada Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Baik, digunakan di sana-sini yang penting kalau ada penggunaan kata tauhid, “Wahhabi”. Sampai ada di sebagian tempat, ada orang yang baca kitab shahih alBukhari, hadits-hadits Rasulullah. Tapi karena itu aneh, mereka katakan, “Wah ini kitab Wahhabi sedang dibaca di masjid.” Imam al-Bukhari dikatakan Wahhabi. Jadi, semuanya dianggap Wahhabi. Dijadikan ilmu itu hal yang aneh. Pada kebiasaan yang berjalan, dibawakan dengan dalil al-Quran dan as-Sunnah, tidak diterima. Lebih meyakini apa yang sudah berjalan di tengah manusia. Ini sebagaimana dikatakan oleh penulis bahwa ilmu menjadi perkara yang aneh. Ada yang pernah cerita kepada saya, dia sebut sebuah negara tempat dia belajar, jadi ustadznya sebelum kesana, dia waktu di Indonesia baca Barzanji. Setelah belajar ke timur tengah, keluar dapat S1, lalu dikatakan dia punya gaya Barzanji sendiri. Jadi ini yang disebut ilmu. Seperti inilah model-model dari yang dipahami manusia. Masuk di dalam gaya dia berdzikir, pada hal-hal yang keliru, penyimpangan, bahkan terhitung bid’ah dan kesesatan di dalam agama, tapi itu yang dianggap ilmu dan fiqih oleh sebagian manusia. Barzanji itu sejarah, ditulis oleh Ja’far al-Barzanji. Kalau sejarah, banyak buku-buku sejarah, ada yang lebih bagus dari Barzanji. Barzanji ini orang belakangan, kenapa tiap ada acara malah dibacakan Barzanji. Lalu, hal ini menjadi perkara teraneh, ilmu dan fiqih berubah menjadi bid’ah-bid’ah dan kesesatan-kesesatan. Kenapa tidak dibacakan sirah Ibnu Hisyam atau sirah Muhammad bin Ishaq atau Rohiqul Makhtum, dan selainnya dari buku-buku sirah. Yang jelas, di sini penulis ingin menjelaskan bahwa ilmu dan fiqih dianggap bid’ah dan kesesatan oleh sebagian manusia. Kalau ada yang menyampaikan ilmu syar’i dianggap bid’ah, sebaliknya kalau mereka melakukan bid’ah dan kesesatan malah dianggap itu ilmu dan fiqih. Sampai ada yang berkata, “Mengambil zhohir nushuush (dalil-dalil yang jelas), itu adalah kekafiran.” Kalau dia baca al-Quran dan al-Hadits secara zhohir , itu dianggap kekafiran. Ini terlihat dari sejumlah manusia, kalau dibacakan al-Quran dan al-Hadits, mereka lalu berkata, “Oh itu tidak seperti yang kamu sangka.” Ada yang pernah tanya saya, “Ustadz hafal al-Quran?” Saya jawab “Iya alhamdulillah” lalu dia tanya lagi, “Berapa juz?”, “Saya hafal 30 juz” Lalu dia berkata, “Tahu tidak kalau al-Quran itu 40 juz? 30 juz yang biasa dihafal oleh orang-orang itu zhohir , sedangkan 10 juz itu tidak kelihatan oleh semua orang.” Ini ada sebagian manusia yang seperti itu modelnya. Mereka juga katakan, “Oh tidak perlu seperti ini, kita harus lihat dari berbagai sudut.” Subhanallah, saya pernah sekali lewat atau singgah di sebuah masjid, tapi qaddarallah wa maa syaa fa’al, saya dengar kalimat orang yang berucap di masjid itu. Dia bahas sesuatu, katanya “Saya ini baru bahas yang biasa saja, saya belum uraikan dari sisi tasawufnya, saya belum uraikan dari sisi filsafatnya..” Jadi ini dianggap ilmu oleh mereka, padahal orang-orang filsafat sendiri sudah banyak yang bertaubat darinya, seperti; Abu Hamid alGhazali, ar-Razi, di akhir hayatnya mereka bertaubat dari itu. Karena masuk di dalam hal-hal seperti itu menyebabkan mereka menyimpang dari jalan yang lurus. Ini di antara bentuk penyelewengan, dari ilmu dan fiqih berubah menjadi bid’ah dan kesesatan. 50 | Enam Landasan Pokok dalam Agama b. Penyamaran antara kebenaran dan kebatilan Mereka menyamarkan antara kebenaran dan kebatilan. Bentuk dari tahriif (penyelewengan), dia buat kaidah-kaidah yang para ulama tidak menganggapnya seperti itu. Karena itu kalau kita belajar ilmu, komitmen ilmu itu jelas. Komitmen ilmu misalnya ilmu aqidah, itu terang pembahasannya, pokok-pokoknya itu apa, dibahas oleh para ulama. Kita masuk pembahasan di tauhid uluhiyyah, masuk pembahasan tauhid asma wa shifat, ada kaidah-kaidahnya. Titik-titik yang disepakati oleh para ulama itu dimana, semuanya terang. Kita bahas ilmu musthala hadits, ilmu ini ada kaidah-kaidah untuk membedakan antara hadits yang shahih dan tidak shahih. Hadits yang lemah misalnya, maka tidak ada batasannya. Tapi dalam nama-nama yang dipakai oleh para ulama dalam melemahkan hadits itu ada jumlahjumlah dan semuanya ada kaidahnya. Sekarang ini muncul, dia bicara ilmu tapi tidak tahu darimana dia ambil, asal-usulnya tidak jelas, tiba-tiba saja dia cetuskan seperti itu. Ini menyamarkan yang haq dan yang batil, banyak juga syubhat-syubhat dari sisi orang-orang yang menyampaikan ilmu. Misalnya dia sampaikan sebagian fitnah yang terjadi di tengah para sahabat, peperangan di tengah sahabat, ini masuk di dalamnya dan dianggap itu ilmu. Padahal kaidah para as-Salaf, kita tidak boleh masuk di dalam hal yang para sahabat itu berselisih, kita dilarang masuk ke dalam rinciannya. Yang terbaik di sisi mereka adalah menyamarkan kebenaran dengan kebatilan. Sebab para sahabat mereka berselisih itu karena ijtihad, kalau benar dapat 2 pahala, kalau salah dapat 1 pahala. Sedangkan kita, kalau masuk di dalamnya dapat dosa. Karena itu, kita tidak boleh masuk ke dalamnya, tetapi ada sebagian orang ada yang masuk seakan-akan itu ilmu. Padahal dasarnya sudah keliru dia membahas hal seperti itu. Maka ini di antara kejadian-kejadian penyelewengan terhadap ilmu dan fiqih. c. Tiada yang mengujarkan ilmu wajib, kecuali zindiq / orang gila Ilmu itu ada yang fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Jadi kalau ada yang mengampaikan ilmu wajib atas makhluk dan dipuji oleh Allah, dikatakan ini tidak ada yang mengucapkannya kecuali zindiq atau majnuun (orang gila). Padahal dalil-dalinya jelas dan terang. Ada juga orang yang mengatakan, “Hati-hati, ada kelompok baru. Ini mujasimah (menyerupakan Allah dengan makhluk), karena dia telah mengatakan bahwa Allah itu di atas langit.” Perhatikan! Aqidah bahwa Allah di atas langit dianggap mujasimah dan orang yang bicara seperti itu dianggap alim. Padahal perkara mengatakan bahwa ‘Allah di atas langit’ itu adalah hal yang ditunjukkan oleh al-Quran, al-Hadits, kesepakatan ulama, dan ditetapkan oleh akal sehat, serta diakui oleh fitrah yang sehat. Berubahlah ilmu yang Allah Ta’ala wajibkan kepada makhluk dan Allah puji, tidaklah yang membicarakan kecuali dianggap sebagai zindiq atau majnuun (orang gila). 52 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Andaikata tidak ada nabi dan rasul, fitrah manusia itu tahu bahwa Allah di atas langit. Itu dibuktikan saja kepada anak kecil, bahkan anak kecilnya orang kafir yang belum diajari apa-apa, “Dimanakah Allah?” Maka dia pasti akan menjawab dan menunjuk bahwa Allahdi atas langit. Itu fitrah manusia dan mencocoki akal. Adapun dari al-Quran dan as-Sunnah telah dinukil oleh para ulama dari masa ke masa, bahwa Allah di atas langit. Al-Quran telah menunjukkan hal tersebut dengan sangat jelas. Allah berfirman, “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” [QS. al-Mulk: 16] Bahkan Fir’aun saja tahu bahwa Allah di atas langit, dia berkata kepada perdana menterinya (Haman), “Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintupintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.".” [QS. Ghafir: 36-37] Jadi Nabi Musaberkata bahwa Allah di atas langit sehingga Fir’aun memerintah Haman dibuatkan istana agar bisa melihat Rabb-nya Musa. Maka itu diketahui oleh Fir’aun. Andaikata dia mengatakan bahwa Allah itu dimana-mana, maka dia akan kirim bala tentaranya. Karena itu kata sebagian ulama, bahwa orang yang tidak tahu bahwa ‘Allah itu di atas langit’, maka Fir’aun itu lebih bagus darinya. Ini dari alQuran di banyak sisi. Kemudian di dalam hadits, tampak dari ucapan beliau, perbuatan beliau, atau taqrir (pembenaran) beliau. bersabda Dari ucapan beliau, hadits dari Abu Hurairah, Nabi “Tidakkah kalian mau percaya kepadaku, sedangkan aku adalah kepercayaan dari Rabb yang ada di langit?” [HR. al-Bukhari dan Muslim] Dari perbuatan beliau, hadits dari Abu Bakrah Nufai' bin al-Hârits , ketika Nabimenyampaikan khutbah di Hajatul Wada, “Apakah saya telah menyampaikannya pada kalian?”, “Benar, wahai Rasulullah.” Maka kata Nabi seraya mengangkat kedua tangannya ke langit, “Ya, Allah persaksikanlah.” [HR. al-Bukhari, no. 7078] Mengangkat tangannya ke langit berarti Allah itu di atas langit, itulah fitrah manusia. Kan sangat aneh kalau Allah itu dimana-mana, angkat tangannya ke sana dan ke sini. Dari taqrir beliau, hadits dari Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulamiy dengan lafazh dari Muslim. “Aku memiliki seorang budak yang biasa menggembalakan kambing sebelum di daerah antara Uhud dan al-Jawaniyyah. 54 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Lalu pada suatu hari dia berbuat suatu kesalahan, dia pergi membawa seekor kambing. Aku adalah manusia, yang tentu juga bisa marah. dan hal Aku ini masih mengkhawatirkanku. lantas menamparnya, lalu mendatangi Rasulullah Aku pun berbicara pada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah aku harus membebaskan budakku ini?” Kata Nabi, “Bawa dia padaku.” Kemudian aku segera membawanya menghadap beliau . Lalu Nabi bertanya pada budakku ini, 2 ” (Di mana Allah?” Dia menjawab, ( ” (Di atas langit” Lalu Nabi bertanya lagi, “Siapa saya?” Dia menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.” Nabi bersabda, ( “Bebaskan dia karena dia budak yang beriman.” [HR. Muslim, no. 537] Lihat, ini pertanyaan dari Nabi. Namun sekarang kalau ada jamaah yang bertanya, “Dimana Allah?” maka akan gempar dunia. Padahal Nabi sendiri yang bertanya lalu Nabi membenarkan ucapannya, ini namanya taqrir. Maka, aqidah ini adalah yang disepakati. Sedangkan sekarang ada manusia yang baru lahir tiba-tiba berkata bahwa yang mengatakan ‘Allah di atas langit’ adalah mujasimah? Ini dari keterlaluannya sebagian orang, dari satu contoh ilmu yang sangat terang & jelas, tapi orang yang mengucapkannya malah dianggap zindiq, mujasimah, dan sebagainya. 2 Ada di dalam hukum perbudakan, kalau dia menyiksa berlebihan maka dia wajib membebaskannya. Tidak boleh berlaku sewenang-wenang terhadap budak. Namun sebelum dibebaskan, dia haruslah seorang yang beriman. Maka budak tersebut diuji dulu keimanannya oleh Nabi. Padahal sejumlah ulama, seperti Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa ada lebih dari 2000 dalil yang menunjukkannya dari al-Quran maupun as-Sunnah. Ini bukanlah hal yang samar. Beda dengan sifat Istiwa, sifat Istiwa itu sifat diterangkan di dalam 1al-Quran, 2as-Sunnah, 3disepakati oleh para ulama, tapi kalau sifat al- ‘Uluw (ketinggian Allah di atas langit) ini diterangkan 1al-Quran, 2asSunnah, 3disepakati para ulama, ditetapkan oleh 4akal sehat dan 5 fitrah manusia. Ini orang ahli kalam juga mengakui bahwa Allah di atas langit itu fitrah manusia. Di sini saya ambil satu contoh, walaupun pembahasan ini mungkin akan dikaji di kitab al-Aqidah al-Wasithiyyah dan di sini hanya sebagai gambaran bahwa ilmu yang sedemikian jelasnya tiba-tiba berubah sebagai bid’ah dan orang yang mengucapkannya dianggap zindiq, mujasimah, dan lain sebagainya. d. Siapa saja yang mengingkari, memusuhi, dan bersungguhsungguh mentahdzir ilmu, dia yang dianggap faqih yang berilmu Malah kalau mentahdzir ilmu dianggap faqih, karena itu Ahlul Bid’ah dari masa dahulu hingga hari ini itu tidak ada hujjahnya, kecuali ribut-ribut saja, membuat kedustaan atau mentalbis antara yang haq dan yang batil. Dan orang-orang yang mendatangkan syubhat-syubhat dari aqidah secara khusus, pembahasan tauhid, itu syubhatnya sudah basi. Yang disampaikan, kalau dilacak asal-usulnya kembali ke itu-itu saja. Orang yang mengingkari dan memusuhi (ilmu) serta bersungguhsungguh dalam mentahdzir (ilmu) dan melarang (ilmu) justru menjadi seorang fakih yang berilmu. 56 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Dan syubhat-syubhat ini sudah lama dihancurkan oleh para ulama di berbagai buku, diterangkan akan kebatilannya. Karena itu, seorang penuntut ilmu hendaknya belajar saja dengan baik, agar bisa mengetahui ilmu dan mengenal jalan yang lurus. Jika ada kesesatan yang muncul darimana pun, pokok-pokok kesesatannya itu dikenal. Inilah pentingnya seseorang belajar ilmu aqidah, dari situ dia bisa menimbang apakah seseorang berada di atas jalan yang benar atau di atas jalan yang menyimpang. Sebab di pembahasan aqidah (yang sifatnya lebih mendalam), dengan mengenal aqidah yang benar ini dia juga bisa tahu aqidah yang menyimpang itu yang mana. Di sebagian pembahasan aqidah, misalnya di pembahasan takdir, prinsip Ahlus Sunnah terhadap takdir itu bagaimana, setelah itu disinggung bahwa yang menyimpang dalam pembahasan takdir itu ada 2 kelompok, ada kelompok al-Qodariyyah & al-Jabriyyah. Dalam pembahasan nama dan sifat, Ahlus Sunnah itu pertengahan. Ada 2 kelompok yang menyimpang, yaitu Mu’atthilah & Musyabbihah. Masuk pembahasan iman, ada 2 kelompok yang menyimpang, yaitu Wa’idiyyah & Murji’ah. Dan sebagainya dari pembahasan-pembahasan, diterangkan sudut penyimpangannya dimana. Seorang semakin mendalam, bisa menilai mana saja bentuk penyimpangan. Mana penyimpangan yang mengeluarkan dari sunnah dan yang tidak mengeluarkan dari sunnah. Semuanya akan terang jika seseorang mempelajari ilmu aqidah dengan benar, dan perlu bertahap. Program ini namanya adalah Kuliah Mafatihul ‘Ilmi, ini baru kuncikuncinya, masih ada lagi tahapan-tahapan di atasnya, tapi ini adalah dasar-dasar agar seseorang bisa mengenal aqidah yang benar. Pokok Kelima Penjelasan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang wali-wali Allah dan pembedaan Allah antara mereka dengan orang-orang yang (sok) menyerupai mereka dari kalangan musuh-musuh Allah, kaum munafik, dan orang-orang fajir. 58 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Dalam hal ini, cukuplah sebuah ayat dalam surah Ali ‘Imran, yaitu firman-Nya, “Katakanlah, ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi kalian.” [QS. Ali ‘Imran: 31] Dan juga dalam surah al-Maidah, yaitu firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agama-Nya, kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah cinta kepada mereka dan mereka mencintai Allah. Mereka bersikap lemah lembut kepada orang-orang mukmin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan para pencela.” [QS. al-Maidah: 54] Ayat lain dalam surah Yunus, yaitu firman-Nya, “Ingatlah, sesungguhnya tentang wali-wali Allah itu, tiada kekhawatiran terhadap mereka tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” [QS. Yunus: 62- Lalu, (dasar pokok) ini berubah, di kebanyakan orang yang mengaku berilmu & mengaku termasuk dari orang-orang yang memberi hidayah kepada makhluk dan orang-orang yang menjaga syariat. Yaitu bahwa wali-wali Allah mengharuskan mereka untuk meninggalkan pengikutan kepada para rasul, sedang siapa yang mengikuti mereka (para rasul) bukanlah dari golongan mereka. Juga mengharuskan meninggalkan jihad. Maka, barangsiapa yang berjihad, maka dia bukan dari pengikut rasul. Juga harus meninggalkan iman dan takwa. Maka siapa yang terikat dengan iman dan takwa, maka dia bukan dari pengikut rasul! Wahai Rabb kami, kami memohon maaf dan afiyat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa. 1. Penjelasan siapa saja wali-wali Allah serta perbedaan antara wali-wali Allah dan kalangan munafikin dan orang-orang fajir yang sok menyerupai wali-wali Allah Ini termasuk masalah yang sangat penting di masa ini karena menentukan di banyak pembahasan. Pokok-pokok yang ada di Ushulus Sittah ini, membedakan orang yang kenal sunnah dan orang yang tidak kenal sunnah. Siapa wali Allah? Telah dijelaskan di dalam al-Quran, sunnah Nabi , sifat-sifat para wali itu jelas, dibedakan wali Allah dan wali syaithan. Di sini syaikh ingin menjelaskan tentang pokok di dalam agama bahwa wali Allah itu jelas. Disebutkan tiga ayat di sini oleh penulis untuk menerangkan siapa wali-wali Allah. 2. Jelasnya tiga ayat yang Penulis sebutkan tentang sifat-sifat wali-wali Allah dan penjelasan tiga ayat tersebut Ayat ini jelas menerangkan tentang sifat wali-wali Allah. Kalau kita petik pelajaran dari ayat, bahwa di dalam ayat ini terdapat penjelasan siapa wali-wali Allah itu dan bagaimana sifatnya-sifatnya. Dalam hal ini, cukuplah sebuah ayat dalam surah Ali ‘Imran, yaitu firman-Nya, “Katakanlah, ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku. Niscaya Allah akan mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Ali ‘Imran: 31] 60 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Sifat wali-wali Allah 1. Mengikuti Nabi Dia mengaku wali Allah, lihatlah sejauh mana dia mengikuti Nabi, itulah yang menjadi ukuran. Kalau orang sekarang ini, banyak yang menyimpang terkait wali-wali. Sebagian orang kadang hanya melihat pada penampilannya, misalnya baju gamis, sorban, selendang hijau, dll. Ada ciri-ciri khusus pada sebagian orang. Ada juga yang dilihat dari karomah dan keanehan-keanehan yang terjadi, tapi keanehan itu belum tentu dihitung sebagai karomah. Keanehan itu ada yang datangnya dari Allah & ada yang datangnya dari syaithan. Karena itu ada orang yang dia mengajak manusia untuk mengikutinya dan dia tampilkan bahwa saya ini wali, dibakar tangannya tidak mempan padahal sebelumnya sudah dikasih minyak. Ini terjadi di sebagian masa dari para ulama, maka ditantang si alim tersebut, sudah begini saja, kita berdua masuk ke dalam api. Sebab dia tahu bahwa ini orang pakai minyak dan hanya sementara. Ini dari kekuatan keimanan, sebab dia yakin saat menjelaskan bahwa orang itu keliru, dia membela tauhid dan pasti Allah akan menolongnya. Maka kelihatan, dia tidak mau. Maka itulah kekhawatirannya ahlul batil. Datang kepada Imam asy-Syafi’i , orang yang mengatakan ucapan al-Laits ibn Sa’d, al-Laits katanya berkata, “Apabila engkau melihat ada orang yang shalat di atas air, jangan kamu percaya dengannya sampai kamu dudukkan perkaranya di atas al-Quran & as-Sunnah.” Kata Imam asy-Syafi’i , “Al-Laits ibn Sa’d itu kurang, bahkan apabila engkau melihat ada orang yang shalat di atas air, dia juga shalat di atas udara, jangan kamu percaya dengannya sampai kamu dudukkan perkaranya di atas al-Quran dan as-Sunnah.” Maka seseorang jangan melihat pada keanehan yang terjadi, karena bukan itu yang diukur. Lalu keanehan itu mereka ukur dan terjemahkan sepihak sebagai karomah, ini keliru. Kalau itu sesuai al-Quran dan asSunnah baru bisa diterima. Kalau mereka memiliki sifat dari wali-wali Allah lalu dikatakan sebagai ‘Wali’ maka tidak ada masalah. Mungkin itu dari pertolongan yang Allah berikan untuknya. Ayat ini memiliki kandungan yang luas, namun di sini hanya fokus di pembahasan kita, dipetik untuk menjelaskan sifat wali-wali Allah. Di dalam ayat diterangkan beberapa sifat dari wali Allah: 2. Allah cinta kepada mereka 3. Mereka juga cinta kepada Allah 4. Lemah lembut kepada orang yang beriman 5. Mereka bersikap keras terhadap orang-orang kafir 6. Berjihad di jalan Allah 7. Tidak takut kepada orang-orang yang mencela “Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agama-Nya, kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang 1Allah cinta kepada mereka dan 2mereka mencintai Allah. 3Mereka bersikap lemah lembut kepada orang-orang mukmin dan 4bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Mereka 5berjihad di jalan Allah dan 6 tidak takut celaan para pencela.” [QS. al-Maidah: 54] 62 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Ada dua sifat yang disebutkan: 8. Keimanan (terkait tauhid) 9. Ketaqwaan (mencakup apa yang diperintah dan meninggalkan yang diharamkan) Kalau dia mengaku wali Allah tapi dia melakukan dosa dan maksiat, maka itu bukan wali Allah. Itu musuh Allah, wali syaithan. Karena itu, ini sifat dari wali-wali Allah. Kalau orang yang keluar dan menyimpang dari pembahasan agama, kadang kita dapati sebagian orang mengatakan, “Ini dari karomah si wali fulan, saking tawadhunya dia punya toko yang penuh dengan bangkai-bangkai anjing.” Kenapa? Itu katanya tawadhu, sabar dengan hal tersebut. Ini orang yang berakal pun tidak menerimanya, tapi sejumlah orang berubah dalam memahami hal tersebut. Ada kisah, sayangnya disebutkan Abu Hamid al-Ghazali di Ihya Ulumuddin, tentang orang yang mencuri di kamar mandi. Dia dikenal baik oleh orang dan banyak yang meninggikannya, tapi itu membuatnya gundah. Maka dia sengaja mencuri di kamar mandi tersebut agar dipukul sehingga tidak banyak lagi yang menghormatinya. Maka, ini bukanlah dari sifat wali Allah. “Ingatlah, sesungguhnya tentang wali-wali Allah itu, tiada kekhawatiran terhadap mereka tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” [QS. Yunus: 62-63] 3. Penyelewengan manusia terhadap makna wali-wali Allah bahwa para wali itu tidak harus mengikuti jalan para rasul, tidak berjihad, serta meninggalkan iman dan takwa Mengaku berilmu, mengajak manusia kepada hidayah, menjaga syariat, tetapi dia menganggap bahwa wali itu harus meninggalkan pengikutan kepada rasul. Di sebagian aliran yang menyimpang, kalau ada orang yang masih shalat lima waktu, puasa, ini masih tingkatan biasa. Kalau sudah naik tingkatan, dia tidak shalat lagi. Ini subhanallah, manusia seperti ini adalah orang-orang yang tersesat dan menyesatkan. Kalau ada di masa Umar bin Khatthab, tidak ada yang tersisa orang-orang seperti ini. Pernah ada suatu keluarga yang bercerita, ada bapak-bapak di depan rumahnya sering bicara ilmu dan segala macam, tapi kalau hari Jumat dia tidak shalat Jumat. Dia di depan rumahnya saja, duduk-duduk. Lalu, (dasar pokok) ini berubah, di kebanyakan orang yang mengaku berilmu & mengaku termasuk dari orang-orang yang memberi hidayah kepada makhluk dan orang-orang yang menjaga syariat. Yaitu bahwa wali-wali Allah mengharuskan mereka untuk meninggalkan pengikutan kepada para rasul, sedang siapa yang mengikuti mereka (para rasul) bukanlah dari golongan mereka. 64 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Maka ditanya oleh keluarga itu, “Bapak kenapa tidak pergi shalat Jumat?” Dia berkata, “Siapa bilang saya tidak shalat Jumat?” Padahal sudah jelas dari tadi dia duduk di situ saja. Lalu dia akhirnya dia bicara tasawuf, “Kamu tahu tidak arti Jumat itu apa?” Orang-orang seperti ini yang merusak, ilmu berubah menjadi kesesatan. Orang umumnya mengenal shalat Jumat sebagaimana keumuman yang dipahami kaum muslimin, sedangkan dia lain lagi. Itulah yang dianggap fiqih oleh mereka, wali itu seakan-akan harus meninggalkan rasul dan berdiri sendiri. Naudzubillah, karena itu penulis berdoa agar jangan sampai seperti orang-orang itu. Maka ini dasar kelima penting sekali, jangan sampai tertipu. Sekarang banyak muncul di televisi, kadang dia tampilkan dirinya memiliki suatu keistimewaan, bisa menyembuhkan, bisa ini dan itu. Itu harus diketahui, ciri umum wali Allah yang dapat karomah, itu karomahnya tidak bisa diatur. Karomah itu datang dalam bentuk pertolongan Allah, pemuliaan Allah kepada hamba. Jika dia bisa mengatur karomahnya, maka dia dibantu oleh syaithan. Begitu cara membedakan yang mudah. Selain itu, dicocokkan dan dilihat perilakunya, bagaimana mungkin ada wali tidak shalat? Ini keluar dari sifat wali-wali Allah. Juga mengharuskan meninggalkan jihad. Maka, barangsiapa yang berjihad, maka dia bukan dari pengikut rasul. Juga harus meninggalkan iman dan takwa. Maka siapa yang terikat dengan iman dan takwa, maka dia bukan dari pengikut rasul! Wahai Rabb kami, kami memohon maaf dan afiyat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa. Pokok Keenam Bantahan terhadap syubhat yang syaithan letakkan supaya (orangorang) meninggalkan al-Quran dan as-Sunnah, serta justru mengikuti pendapat-pendapat dan hawa nafsu yang berbeda-beda lagi beraneka ragam. (Syubhat itu) adalah bahwa al-Quran dan as-Sunnah tidaklah bisa diketahui kecuali oleh seorang mujtahid mutlak. Dan mujtahid itu adalah yang disifatkan begini dan begitu, berbagai sifat yang mungkin tidak ditemukan secara sempurna pada Abu Bakr dan Umar! 1. Bantahan terhadap syubhat bahwa al-Quran dan asSunnah hanyalah diketahui oleh seorang mujtahid mutlak Di sini beliau terangkan dasar agama, beliau membantah syubhat syaithan yang dipakai orang-orang untuk meninggalkan agama. Padahal ini menyelisihi perkara yang terang dalam agama. Syubhat syaithan tersebut adalah al-Quran dan as-Sunnah itu tidak ada yang kenal kecuali ulama yang besar saja (mujtahid mutlak). Syubhat ini tentu tidak benar, isi al-Quran itu bisa diketahui oleh siapapun, bahkan orang awam. Dan di sebagian isi al-Quran memang perlu ilmu di situ, karena ilmu itu bertingkat-tingkat. 66 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Sedangkan mereka memberikan syarat-syarat yang kalau dicari belum tentu terkumpul bahkan pada Abu Bakr ash-Shiddiq dan Umar bin Khaththab . Tidak semua dari hadits-hadits Rasulullah dihafal oleh mereka berdua. Kisah Umar bin Khaththab tidak mengetahui sebuah hadits Sebagaimana kisah saat terjadi wabah, Umar bin Khaththab meminta pendapat kepada sahabat, apakah akan menuju ke negeri yang di sana ada wabah atau kembali saja ke Madinah. Berselisih para sahabat, mereka berijtihad. Dipanggil kaum Anshar, kaum Muhajirin, lalu dipanggil orang-orang tuanya yang dahulu masuk ke dalam Islam, mereka tidak berselisih dan memutuskan kembali ke Madinah. Ini semua ijtihad dari sahabat. Saat Umar bergegas akan kembali, datanglah Abdurrahman bin Auf. Disampaikan masalah tersebut ke beliau, lalu Abdurrahman bin Auf berkata, saya mendengar dari Nabi, “Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian ada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu.” [HR. Bukhari, no. 3473 & Muslim, no. 2218] Berarti ijtihad para sahabat sudah berada di jalan yang benar. Karena itu, kalau umat muslim berijtihad tidak mungkin menyelisihi kebenaran. Syahidnya banyak Muhajirin, Anshar, orang-orang tua, dan Umar, tapi tidak ada yang tahu hadits ini kecuali Abdurrahman bin Auf. Jadi kalau disyaratkan mujtahid mutlak harus hafal seluruh hadits, siapa yang bisa seperti itu? Makanya penulis mengatakan, bahwa barangkali syarat ini tidak bisa ditemukan bahkan pada Abu Bakrdan Umar. 2. Definisi mujtahid mutlak menurut mereka Memang di pembahasan mujtahid mutlak itu disebutkan, seorang mujtahid mutlak itu seperti apa, Dia mengerti al-Quran dan as-Sunnah Dia pernah baca penjelasan hadits-haditsnya Dia mengerti yang nasikh dan mansukhnya Dia mengerti tentang pembahasan-pembahasan kesepakatan para sahabat dan ulama agar jangan sampai berucap sesuatu yang menyelisihi kesepakatan. Dan ada syarat-syarat lain yang dijelaskan para ulama Tapi ini adalah hal yang biasa dan jelas di pensyaratan mujtahid mutlak oleh para ulama. Sedangkan apa yang mereka syaratkan ini, bahwa al-Quran dan asSunnah tidak ada yang mengenalnya kecuali mujtahid mutlak. Lalu bagaimana dengan orang awam? Kasihan kalau mau belajar, mereka diarahkan untuk berpaling semuanya. Dibuat perang, padahal agama ini tidak seperti itu. Ini syubhat syaithan, karena dalam agama ini seseorang diperintah untuk belajar. Di dalam al-Quran dan as-Sunnah, ada pembahasan yang orang awam pun bisa membacanya dan meresapinya. Banyak orang yang membaca al-Quran bisa menangis karena ada hal yang jelas dan terang. Dan ada di sebagian perkara dalam al-Quran yang perlu ijtihad dan ilmu, itu memang butuh orang-orang berilmu di situ. 68 | Enam Landasan Pokok dalam Agama 3. Mereka menyelewengkan pemahaman bahwa siapa saja yang mencari petunjuk dari al-Quran & as-Sunnah maka dia adalah zindiq atau orang gila karena sangatlah sulit memahami al-Quran dan as-Sunnah Kalau seseorang tidak bersifat mujtahid mutlak, maka hendaknya dia berpaling dari al-Quran dan as-Sunnah, dan ini adalah wajib yang tidak ada keraguan di dalamnya dan tidak ada masalah di dalamnya. Siapa saja yang mencari petunjuk dari al-Quran dan as-Sunnah, maka dia dianggap seorang zindiq atau majnuun (orang gila) karena sulitnya memahami al-Quran dan as-Sunnah. Ini sering disebutkan, ada yang berlebihan, ada yang pada seluruh ilmu dan ada yang pada sebagian ilmu. Kadang sebagian penuntut ilmu berkata, “Jangan baca buku ini, kalau baca nanti bisa gila.” Padahal buku bagus, dari buku aqidah. Kalau dilarang dari membaca dan memahami itu keliru, tapi kalau dalam bentuk bertahap itu memang ada tahapannya. Itu ada buku-buku aqidah yang khusus membantah syubhat, maka ini tidak semua orang cocok masuk di situ. Tapi itu bisa dipelajari dan didalami. Karena itu, di pembahasan bantah membantah, itu ada tingkatan buku tertentu yang dibaca. Misalnya seseorang membaca kitab al-Umm karya Imam asy-Syafi’iitu tingkatan tertinggi di pembahasan fiqih, di dalamnya beliau membantah orang-orang yang menyelisihi pendapat beliau. Itu bagus, tapi seseorang perlu tahapan untuk sampai ke sana. Ibnu Qudamah menyusun buku fiqih (sesuai tingkatan) : 1. ‘Umdatul Fiqh (menguraikan 1 pendapat, kesimpulan) 2. Al-Muqni’ (menguraikan 2 pendapat dalam madzhab) 3. Al-Kaafii (menguraikan seluruh pendapat dalam madzhab) 4. Al-Mughnii (dia sebutkan pendapat madzhab Imam Ahmad, lalu dibandingkan dengan madzhab lainnya) Apakah dia belajar fiqih mau langsung tingkatan 4? Maka kapan dia akan sampai? Baru saja mau belajar, dia sudah dapati ada 4 pendapat. Masuk pembahasan ‘mengusap kepala’, ada 13 pendapat. Pendapat pertama begini, dalilnya ini, dan ini pendapat lemah. Bantahannya ini. Harusnya belajar itu dari yang ringkas, ‘mengusap kepala’ itu dari ubun-ubun lalu ke belakang dan kembali ke depan. Dalilnya adalah ini, selesai. Adapun uraian-uraian lainnya itu nanti belakangan. Setelah dia belajar semuanya, kalau ingin dia rinci, baru dia masuk ke tingkatan berikutnya. Karena itu, ada program kunci-kunci ilmu, inilah tahapantahapan. Yang sering menjadi masalah sekarang ini, agak repot yang sekolah di universitas-universitas, memang bagus pelajaran di dalamnya, tapi anak-anak yang masih belajar ini kadang dia belum punya dasar yang cukup untuk menangkap pelajaran, akhirnya dosennya kadang tidak lengkap dalam mengajarkan, kadang diringkas. Akhirnya keluar, ada bolong-bolong. Tinggal bagaimana si murid ini, kalau dia keluar dan menghadiri halaqoh-halaqoh di luar universitas, itu biasanya kuat. Tapi kalau hanya mengandalkan di universitas, inilah yang membuat kekeliruan-kekeliruan. Misalnya dia keluar dari universitas, menyandang gelar, LC, MA, DR, tetapi banyak dari pemikiran-pemikiran yang tidak tahu darimana diambil dan saya yakin tidak ada guru-guru yang mengajari seperti itu. Kenapa bisa muncul kesalahan dalam pemahaman? Karena dia tidak belajar sebagaimana mestinya. 70 | Enam Landasan Pokok dalam Agama Ilmu itu harus dibangun dari pondasi, baru meningkat ke atas dan ke atas. Itu baru rapi dalam belajar. Nanti akan tampak saat terjadi masalah-masalah, fitnah, musibah. Sikap-sikap dan keteguhan seseorang di atas ilmu itu akan tampak. Ini gambaran tentang landasan pokok yang keenam, menyingkap syubhat syaithan yang mengarahkan agar manusia berpaling dari alQuran dan as-Sunnah. Orang yang ingin belajar dibuat berat, dia harus memiliki syarat mujtahid mutlak karena sulit dipahami. Untuk membantah syubhat ini, maka syaikh berkata, Maha Suci Allah dan segala puji hanyak untuk-Nya. Betapa banyak penjelasan Allah secara syara’ dan qadar, dalam bentuk penciptaan maupun dalam bentuk perintah, dalam membantah syubhat terlaknat ini dari berbagai sisi pandang yang sampai pada tingkat darurat untuk diketahui semua orang secara umum (diterima secara aksioma). Secara syara’ maksudnya diterangkan secara syar’i, bagaimana syariat menjelaskan anjuran tentang ilmu, seperti anjuran membaca alQuran, mempelajarinya, dimudahkan bagi siapa yang bersungguhsungguh. Ini semua menunjukkan dimudahkan. Secara qadar, al-Quran memang dijadikan oleh Allah sebagai hal yang dimudahkan. “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” [QS. al-Qamar: 17] Hadits dari Abu Hurairah, Rasulullahbersabda, “Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah.” [HR. al-Bukhari, no. 39] Dengan ini jelas, secara syara’ dan qadar memang dimudahkan. Betapa banyak pendalilannya di dalam al-Quran dan as-Sunnah untuk membantah syubhat yang terlaknat ini, yang ingin memalingkan dari jalan Allah. Sekarang yang memalingkan manusia dari jalan Allah ini banyak bentuknya, salah satunya ucapan seperti ini. Ada pula yang mengatakan, “Tidak perlu belajar agama, nanti kalau belajar agama jadi orang ekstrim.” Ada juga yang mengatakan, “Tidak perlu belajar agama, nanti kalau belajar agama tapi tidak mengamalkan, kamu berdosa.” Ini juga syubhat syaithan, membuat manusia tidak mau belajar. Dia keliru, ilmu itu dipelajari dapat pahala dan diamalkan dapat pahala. Kalau dia meninggalkan dua-duanya, maka dia dapat dua dosa. Dia wajib pelajari dan mengamalkan, tidak dipelajari maka dia berdosa. Dia pelajari tapi tidak mengamalkan, dia baru menanggung satu dosa. Maka harus dipahami bahwa banyak dari manusia, itu membuat halhal agar lari dari ilmu. Banyak dimasuki di berbagai lapisan manusia, termasuk penuntut ilmu yang baru mengenal sunnah, dia buat orang lari dari sunnah. Akhirnya orang yang baru mau belajar sunnah, “Jangan belajar di sana, Salafi itu senang ribut-ribut. Kerjaannya pecah-pecah.” Itulah syubhatnya orang-orang jahil, tidak paham agama, mengikuti hawa nafsunya, inilah yang merusak. Tapi seorang penuntut ilmu itu harus tahu apa yang harus dikerjakan, harus selalu mengajak manusia untuk kepada ilmu agama, dia dekatkan ilmu itu dengan sebaik mungkin. Karena itulah sifat penuntut ilmu, apa yang dipelajari menjadi sebab manusia semakin mudah dan cinta untuk belajar. 72 | Enam Landasan Pokok dalam Agama 4. Tafsir ayat-ayat dari surah Yasin “Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [QS. al-A’raf: 187]. “Sungguh telah tetap keputusan atas kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan telah Kami jadikan dinding di depan mereka dan dinding di belakang mereka, lalu Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Dan sama saja bagi mereka apakah engkau memperingatkan mereka atau engkau tidak memperingatkan mereka, mereka tidak akan beriman. Engkau hanyalah memperingatkan orang yang mau mengikuti peringatan & takut kepada Yang Maha Penyayang walaupun dia tidak melihatNya. Maka berilah kabar gembira kepadanya dengan ampunan dan pahala yang mulia.” [QS. Yaasiin: 7-11]3 Akhir kata, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam yang banyak Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan shahabat beliau hingga hari pembalasan. 3 Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa banyak dari manusia yang tidak mengetahui & tidak bisa menerima petunjuk, karena memang Allah sudah menetapkannya.